BERPIKIR

Membuat SIM (2)

Melanjut kisah pembuatan SIM gue yang waktu itu mati..

Sebenarnya gue sudah meminta suami gue untuk menanyakan ke biro jasa atau orang yang bisa bantuin bikin SIM yang sehari jadi. Ada seorang yang dulu kami kenal di Duren Tiga. Profesinya sehari-hari adalah satpam, tapi dia juga biasa bantu dan memang dulu sempat menawarkan pembuatan SIM kolektif atau apa gitu (lupa). Tapi setelah ditanyakan, biayanya adalaaaah SATU JUTA saja. Haaa? Itu aja biasanya 1,2 juta katanya. Gila, kalo masih 600 ribu sih masih gapapa gue ladenin, tapi kalo udah sejuta itu kok ya agak ga rasional menurut gue. Terlebih gue juga tahu bahwa biaya pendaftaran bikin SIM tuh cuma 120 ribu aja, dan kalo ditotal2 sama asuransi juga ga sampe 150 ribu. Itu berarti biaya macem2 itu kayak 10 kali lipat dari harga aslinya. Itupun, katanya, dia hanya ambil 100 ribuan. Selebihnya bukan buat dia. Membaralah hati gue pengen mencak-mencak ke para polisi yang menerima suapan itu sampe orang-orang yang nembak ini harus merogoh kocek sejuta. Suami gue sebelum mengonfirmasi, mengecek ke BukaLapak dan memang ada yang menawarkan jasa pembuatan SIM. Itupun juga 800 ribu. Ya online memang biasanya lebih murah, ya kan? Tapi tetep aja itu jauh dari setengah juta.

So, jelas gue akan pilih berjibaku dengan ujian-ujian itu dengan bayar sepersepuluh dari sejuta kan, daripada ngeluarin duit sejuta?

Akhirnya, dengan ngomel-ngomel gue dan suami berangkat ke Daan Mogot, tanggal 13 Desember lalu. Suami gue menjalankan ulangan Ujian Teorinya yang ke-2, sedangkan gue mendaftar ujian SIM dari awal. Gue dari rumah udah bersiap diri dengan hp full charge, berniat menangkap foto kalo-kalo ada praktik suap dan handicap lain dalam proses ujian SIM wakakakk. Sok detektif.

Dengan panduan dari suami gue, alhamdulillahnya gue bisa men-skip proses mulainya dari mana karena jujur, ini yang juga gue bete dengan instansi-instansi pemerintah dan pelayanan masyarakat lainnya juga, yakni KURANGNYA SIGNAGE dan ga ada informasi yang jelas mengenai tahap alur atau prosedur yang harus dilalui, beserta DI MANA alur/prosedur itu harus dilakukan. Akhirnya, semua balik-balik harus melalui prosedur NANYA. Primitif banget ya, kayak belum masuk zaman peradaban dengan budaya tulis dan baca.

Jadi gue memulai dengan datang ke bangunan terdepan, dekat dengan pintu masuk di dekat Masjid, memfotocopy KTP di salah satu kios di bangunan itu, lalu mendaftar untuk tes kesehatan di ruangan sebelahnya. Untuk Tes Kesehatan ini, kita cukup bayar 25ribu. Alhamdulillahnya, gue waktu itu pas jam sepi (jam 11-an), yang ga perlu ngantri, langsung dipanggil, trus tes. Tesnya sederhana, cuma tes pengelihatan dengan Snellen Chart kayak biasa kita tes mata di optik atau dokter mata untuk tes rabun jauh/dekat dan tes buta warna. Langsung lulus, dikasih kertas dan disuruh melanjutkan ke Ujian Teori.

Dari tes ini, gue bergabung dengan suami yang menunggu gue ke tempat tes teori yang dia sudah tahu. Bangunan tes kesehatan dengan bangunan Ujian Teori dan lain-lain dipisahkan dengan satu selasar panjang yang melintang di antara area parkir motor dan mobil. Sampai di bangunan yang dimaksud suami gue, kami bertanya kepada Pak Polisi di sana dan sini trus akhirnya kami memutuskan untuk makan aja dulu, sebab kami di arahkan ke sana, ke sini, ga jelas. Itu juga karena kami pikir, ini udah memasuki cut off time istirahat, jadi biarlah kita makan siang dan sholat dulu, ketimbang ntar udah ujian, nunggu-nunggu, trus jadi bingung mau solat apa nunggu pengumuman.

Ga seperti cerita suami gue kemarin lalu, ternyata di sini ada kantinnya, yang dia pun belum tahu. Lokasinya tepat di belakang parkir mobil, yang sebenarnya di sisi bangunan ujian. Banyak sih pilihan makanannya, tapi jangan expect banyak lah soal rasa. Di sini pokoknya yang penting keisi aja perutnya.

Selesai makan, kami pun kembali ke bangunan ujian. Karena gue lagi ga sholat, dan lokasi masjid agak jauh di depan tadi, gue mau nunggu aja, siapa tahu bisa sambil ngerjain apa gitu. Suami gue bilang, nanti kalo loket registrasi itu udah buka, kamu ke situ. Jadi kami berpencar. Suami gue ke masjid, dan gue duduk di ruang tunggu yang bisa langsung melihat loket registrasi. Untungnya kami memutuskan untuk berpencar sih. Karena ternyata, begitu loket itu ada gerak-gerik orang, gue langsung nyamperin. Dari petugasnya, akhirnya gue baru tahu kalo ternyata semua proses pindah ke gedung baru. Emang janggal sih, soalnya gedung ini kayak ga ada kegiatan yang berkaitan dengan ujian SIM (harusnya banyak warga sipil kan?). Yang ada malah kegiatan renovasi dan pindah-pindah barang. Ewhh.

Langsunglah gue buru-buru ke gedung baru yang petugas tadi tunjukkan. Sebenenrya bukan gedung baru kayaknya. Gedung yang sama, hanya saja ada bagian di depan yang dirombak menjadi berwajah baru. Memang lebih modern kelihatannya, fasad didominasi ACP dan kaca. Dannnn di sana sudah nguanntriii orang.

Setelah bertanya, sampailah gue ke meja registrasi. Di meja itu gue pun dioper lagi ke desk BRI untuk pembayaran. Biaya pembuatan SIM adalah 120ribu untuk SIM mobil (A), dan 80ribu untuk SIM motor (C). Dari sini, gue menerima kuitansi pembayaran. Kuitansi inilah yang diserahkan ke meja registrasi. Di meja registrasi, kita juga diminta menyerahkan fotokopi KTP. Kuitansi ini akan dicekrek dengan foto copy KTP dan formulir pendaftaran berwarna biru yang harus diisi dengan data diri kita. Jadi silakan mundur dari meja lalu mencari tempat nyaman untuk mengisi. Sebenarnya ada beberapa meja tinggi dengan enam sisi untuk mengisi formulir. Hanya saja, meja-meja itu penuh. Tapi jangan kuatir, ngisi formulir juga bisa dilakukan di ruang tunggu kok. Di sini gue bergabung lagi dengan suami gue, yang merasa rugi banget ga nyadar dari awal. Dia khawatir sebenarnya kita sudah bisa ikut antrean ujian dari awal datang tadi. Tapi yaudahlah.

Anyway, jadi kalo udah tes kesehatan, prosedur berikutnya adalah ke meja BRI untuk bayar registrasi, lalu ambil formulir registrasinya di meja registrasi. Jangan kebalik ya kayak gue.. Hehe.

Setelah ngisi formulir, gue menyerahkan ke meja petugas (setelah nanya lagi tentang “Ujian Teori di mana?”). Di meja ini gue diminta lagi fotocopy KTP dan dapet satu lembar jawaban kecil seukuran A6 berwarna pink yang dicekrek dengan KTP gue ini. Jadi, penting banget deh sedia fotocopy KTP di tempat yang mudah diambil, soalnya gue sempet lama gara-gara fotocopy KTP gue taruh di dompet, yang gue taruh di dalam tas. Ga enak aja, di belakang banyak yang ngantre. Anyway, lembaran kecil ini ternyata adalah lembar periksa yang akan digunakan petugas untuk menilai jawaban kita. Untuk yang ngulang ujian, kayak suami gue, harus tetep ke meja ini lagi. Kayaknya beda hari beda warna juga, sehingga akan ketahuan siapa yang udah ngulang berapa kali, karena kelihatan dari warna-warninya. Suami gue di ujian pertamanya dapat lembar periksa warna hijau. Dari sini tinggal ikut antrean ke ruang ujian deh.

Ruang ujiannya besar, dan gue menduga ini mungkin ruang sementara, sebab overall bangunan ini emang masih belum selesai. Kayaknya ada 100+ orang yang bisa ikut dalam sekali ujian di ruangan ini. Itupun masih ada antrean lagi. Wow, banyak banget ya yang mau bikin SIM. Orang Jakarta kayak ga abis2. Di depan ruangan tempat para petugas duduk, kami mengambil soal SESUAI jenis SIM yang mau diambil (A), dan lembar jawaban.

Ujian hanya menghabiskan waktu 15 menit. Sebelum ujian, Pak Polisi akan menjelaskan terlebih dulu apa saja yang harus diisi. Data-data ini perlu diisi di lembar jawaban dan lembar periksa yang tadi gue sebut; yakni lembaran A6 berwarna. SIMAK BAIK-BAIK lho ya, sebab soal ujian SIM yang kita terima akan beda dengan soal orang lain di sebelah-sebelah kita, dan soal-soal itu ada kodenya. Nomor seri soalnya ada ada dari 0 sampe 9, yang artinya satu ujian SIM akan ada 10 permutasi soal. Gue menduga, kemungkinan di ujian yang pertama, suami gue tuh bukannya jawabannya yang salah sehingga dia cuma bener 5 dari 30 soal, melainkan hanya karena SALAH ISI NOMOR SERI soal. Nah, penting kan menyimak?

Setelah kelengkapan data tadi diisi, yaudah mulai aja menjawab soal di lembar jawaban. Kalo udah selesai, kita bisa keluar dari ruangan ujian itu dan menunggu hasilnya di kursi-kursi yang tersedia. Nnnahhh.. Ini lama banget sih nunggunya. Gue selesai ujian jam setengah 2 dan baru denger pengumumannya jam setengah 5. Itupun ternyata gue gagal. Wakkakak. Tapi menunggu hasilnya itu jadi tidak membosankan karena gue bawa laptop dan bisa bekerja (sampingan) HAHAHA *ga mau rugi. Jadi, kalo lo beruntung ada di indoor, bawalah sesuatu untuk lo bisa nyambi sembari nunggu pengumuman hasi ujian lo. Kalo gue sih emang ga begitu suka bergadget, karena pusing kalo kelamaan nunduk dan liat layar. Jadi kalo lain waktu gue disuruh nunggu begitu lagi, gue akan bawa laptop untuk kerja atau bawa benang rajut *random HAHAHA.

Balik tentang ujian teori ini, dari 30 soal, kita diharuskan menjawab benar setidaknya 21 soal. Ndilalahnya gue bener 20 soal ajalah. Dan suami gue bener 17 soal HAHAHA. *merasa menang *tapi tetep aja kalah. Dia mengakui kecerdasan gue soal teori ini, sebab dia udah dua kali gagal. Itupun hasil kedua tidak lebih baik daripada gue. Dan gue pun mengakui, soalnya SUSAH.

Di bangunan yang lama gue sempet membaca salah satu poster, “INGIN LULUS? BELAJAR.” Pada saat itu gue tersentak. “Iyaya, gue ga belajar apa2.” Dan setelah melalui ujian teori, gue pun mengiyakan, memang ini harus belajar. Gue alhamdulillah sudah lulus ujian SIM tanggal 28 Desember lalu. Yup hanya 2x ke Daan Mogot, SIM sudah gue terima. Itu berkat gue belajar beneran sebelum ujian teori kedua gue, dan alhamdulillahnya sekali ujian praktek gue pun langsung lulus. Jadi biar gak kepanjangan, gue akan menuliskan tips-tips untuk lulus ujian teori di posting terpisah.

Tengkyu kalo lo udah baca ini. :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s