BERPIKIR

Membuat SIM

Dua minggu ini gue dan suami ga ke kantor dengan mobil. Alasannya, suami gue tetiba sadar diri bahwasanya dia tidak memiliki SIM A, dan menyetir tanpa SIM adalah melanggar. Dia mensyaratkan, “Kalau mau ke kantor pakai mobil, kamu yang nyetir.” Oh sungguh malasnya gue. Akhirnya, gue mengikuti itikadnya berkendara naik motor saja, dengan syarat dia harus segera membuat SIM.

Kisah dimulai.

Sehari kami mencoba naik motor, keesokannya dia menjadwalkan untuk membuat SIM, tepatnya tanggal 30 November kemarin. Karena KTP kami KTP Jakarta, pembuatan SIM dia lakukan di Daan Mogot. Tempatnya ternyata jauuuuuh sekali. 35 km dari rumah kami menurut keterangannya, dan seperti di ujung dunia. Dia berangkat naik gojek sampai harus 2x saking melampaui 25km.

Di sana, sepantauan WhatsApp antara kami berdua, menurutnya banyak sekali yang mengantri. Dan sebanyak-banyak orang itu, tidak ada arahan yang jelas mengenai prosedurnya. Yaya, tipikal institusi dan aparatur negara, tidak ada budaya membaca. Adanya budaya bertanya.

Jam 1.45 suami tercinta mengabari bahwa dia sedang menunggu hasil ujian teori. Katanya, tadi selesai ujiannya baru jam 11.20. Jam 3 masih menunggu, dan ga ada keterangan masih berapa lama lagi harus menunggu. Akhirnya ga lama kemudia, nyaris jam setengah 3, dia mengabari bahwa dari 30 soal dia hanya benar 5.

Dia merasa ada yang janggal, karena justru dari 30 soal, cuma 5 yang dia ragu jawabannya, yang lain yakin. Gue bertanya, “Kamu foto nggak soalnya dan jawaban kamu?”

“Ga boleh difoto.”

“Trus tahunya salah sama benernya yang mana, gimana?”

“Emang ga tahu ini. Tau2 dapet aja hasilnya, itupun cuma nomor sekian salah, jawabanku ga ada di situ.”

“Kok nggak transparan gitu sih?”

“Kalo ga lulus disuruh tes lagi tanggal 13 Desember.”

Singkat cerita, gue jadi bercerita dengan sedivisi tentang kejadian ini. Dari 4 orang yang gue tanya (gak semua), 3 punya SIM dari hasil nembak, sedangkan yang satu dari hasil keringat ujian sendiri, itupun SAMPE 3x TES BARU LULUS.

What  the?

Jujur, gue adalah termasuk orang yang SIMnya dari hasil nembak. Total gue dateng sampe nerima sim cuma 45 menit lho. Tapi jangan remehin kemampuan nyetir gue ya.. Apalagi parkir, gue jagonya parkir dan meloloskan diri dari himpitan mobil2 bos yang parkir di depan dan samping gue, waktu gue di Aboday HAHAHA.

Yoga adalah satu satunya dari 4 orang yang SIMnya hasil lulus tes sendiri. Katanya dia sempat ditipu oleh oknum polisi, yang meminta uang 1 juta di muka dan menjanjikan SIMnya jadi. 1,5 bulan tidak ada kabar. Alamat yang oknum itu kasih ternyata salah. Untungnya kerabatnya punya kenalan di kepolisian. Oknum yang bersangkutan pun akhirnya dipaksa balikin uang itu. Dia sendiri melanjutkan proses tes berkali-kali yang ketidaklulusannya tidak wajar. Salah satu hal yang tidak wajar adalah, pas ujian praktek, melihat dia nyetir dengan baik, polisi pengawasnya mencari-cari kesalahan dengan dalih mobil sudah nyerempet, padahal mobilnya hanya mepet dengan batas cone ujian. Satu hal lagi, dia bilang bahwa di tes pertamanya, dia menanyakan ke peserta sebelahnya sudah ujian yang ke berapa. Ternyata kali itu sudah tes yang ke-5. Gila!

Rekan kantor gue yang lain pun bercerita, awalnya dia mengikuti prosedur umum, namun tidak lulus. Ketika akhirnya dia pakai biro jasa, ternyata ada “cheat”nya. Di mesin simulator yang dia kendarai, dia menabrak pun tidak ada notifikasi apa2. Tau2 lulus aja. Gue jadi teringat film Monsters University, ketika Sullivan khawatir temannya Mike Wazowski tidak lulus ujian simulator, dia merusak detektornya sehingga apapun tindakan yang dilakukan akan menghasilkan tingkat ketakutan yang diinginkan.

Dan tidak usah ditanya lagi, kalau kalian search di google tentang sulitnya pembuatan SIM, pasti keluar semua tuh unek2 dari blogger, di any forum, di kaskus, bahkan di website berita sekalipun. Semua membeberkan betapa para polisi mengada-ngada supaya mereka ga lulus.

Ramai tentang perolehan SIM, dan melihat gue yang bercerita dengan geram tentang betapa tidak transparannya pengetesan SIM di Indonesia, dan bahwa suami gue ga mau banget pake cara “ga halal” dengan ngambil calo daripada berkali-kali buang energi, salah satu rekan kerja kami mengingatkan, “Jangan gitu, ntar lu kena batunya lagi. Jangan sampe telat lho perpanjang SIM, soalnya telat sehari aja sekarang udah harus tes ulang.”

Waduh. Pas gue cek dompet, ealah ternyata SIM gue pas banget habisnya di tahun ini. Tapi September. Kena batunya beneran gue. Akhirnyalah gue mencari-cari alternatif lain yang ternyata bisa diusahakah, diantaranya:

  1. Ajukan pembuatan SIM Kolektif, dari data yang gue cari itu (thn 2009) pembuatan SIM kolektif minimal 50 orang, atau
  2. Pakai biro jasa. Rekan kerja gue mengungkapkan bahwa biro jasa, kalau mau dibilang gamblangnya, layaknya adalah calo juga, hanya saja berbadan resmi. Uang yang ditarifkan pun juga terbilang tinggi kalau dibandingkan dengan biaya pembuatan SIMnya sendiri. Itu tak lain karena ada porsi yang masuk ke kantong para polisi.

Jadi, insyaAllah di tanggal 13 nanti gue akan ikut suami gue membuat SIM. Sampai sekarang sih gue masih cari biro jasa. Suami gue sendiri maunya dengan jalur normal aja. Wes, ben. Gue sendiri sih penasaran dengan mengungkap semua kebusukan proses pembuatan SIM yang konon susah banget dan dibuat-buat seolah susah: tanpa prosedur yang jelas, tanpa panduan/signage yang jelas, dan sama sekali tidak transparan, sehingga semuanya membuat para pembuat SIM malas berlama-lama dan akhirnya “membayar lebih”, baik kepada oknum polisinya langsung maupun melalui calo, atau biro jasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s