BERPIKIR

Dear Clients,

Ada satu buah screenshot yang gue dapet dari temen gue, yang asalnya pun anonim. Tapi sungguhlah si anonimus ini sudah mengeluarkan sebuah quote yang sangat mewakili perasaan segenap umat desainer, baik arsitek, desainer interior, hingga renderer atau 3d artist. Mungkin juga para fashion designer, product designer, dan lain-lain juga berterima kasih padanya. Begini kutipannya:

Dear Clients,

Cheap + Good = Wont be fast

Cheap + Fast = Wont be good

Good + Fast = Wont be cheap

Kata-kata yang sangat ampuh bukan, wahai saudara-saudara desainer?

Itu hanyalah satu hal dari berbagai problem yang kerap muncul dalam hubungan antara desainer dan klien. Kadang klien tidak mengerti hukum mutlak dalam mendesain. Kami, para desainer, akan membuat sebuah konsep untuk mencapai tugas yang diberikan.

Yang harus diketahui oleh para klien adalah, ketika kalian menggunakan jasa desainer, kalian “membeli” ide desainer. Bagaimana cara menyampaikan ide itu?

Desainer akan mengeluarkan berbagai media untuk menyampaikannya pada klien. Marilah kita sebut ini sebagai “output”. Bila desainer itu adalah arsitek, maka output yang akan dia keluarkan bisa jadi denah, tampak, potongan, dan perspektif untuk membantu orang yang kurang bisa membaca gambar agar mengerti maksud dari desainer. Gue bilang “bisa jadi”, sebab belum tentu setiap desainer-arsitek akan mengeluarkan output yang sama. Ada beberapa arsitek yang menyampaikan konsepnya melalui project reference (ambil beberapa contoh project yang sudah ada (yang belum tentu projectnya sendiri) yang bisa mewakilkan apa yang ia mau sampaikan, bisa juga dengan mood board, dan sebagainya. Semuanya hala-halal saja.

Nah berkaitan dengan output ini, seiring dengan berkembangnya bisnis yang pada akhirnya membutuhkan jasa desainer, kerap terjadi pula bias antara jobdesc para desainer dan outputnya pula.

Mari gue berikan contoh dulu.

Gue adalah arsitek. Suatu hari gue pernah mendapatkan job mendesain sebuah masterplan sebagai konsep untuk diajukan. Pemberi tugas (yang merupakan bapak gue sendiri hahaha), memberikan masterplan yang sudah jadi dan beberapa jenis unit rumah dalam bentuk denah. Briefingnya adalah, “Nis buatin presentasi yang bagus.”

Pada saat itu, gue bingung. Ini semua desainnya udah jadi, kenapa nyuruh gue lagi kan? “Oke. Aku cuma bisa bikinin 3dnya lho.”

Pas udah jadi, yaudahlah gue bikin presentasi dengan bahan mentah berupa 3d sketchup yang gue buat sendiri dari masterplan sumber, lalu gue capture menjadi beberapa image jpeg, kemudian gue touch up dengan program photoshop.

Singkat cerita, Bapak kecewa dengan hasilnya namun tidak mengutarakan kecewanya. I just noticed from his face *tsaelah.

Ada lagi kejadian lain. Gue adalah arsitek, diminta mendesain ruang meeting. Sebagai arsitek, gue juga bisa (loh) mengerjakan desain interior. Singkat cerita, sudah gue bikin nih desainnya. Outputnya denah, potongan prinsip, dan beberapa view interior dari beberapa sudut pandang. Konsepnya, ruang meeting yang tadinya berjumlah 2 ruangan besar gue bikin jadi tiga ruangan, yakni satu ruang 7×6 m, dan dua ruangan 7×5 m. Sekatnya bisa dibuka sehingga ada kalanya bila diperlukan bisa disetting jadi ruang meeting besar. Bila eventnya ada classroom atau training yang dibuat menjadi kelas kecil, sekatnya bisa dipergunakan dan jadilah tiga ruang kelas. Ide tersebut sangat disenangi oleh kliennya klien.

Di menjelang akhir dari pekerjaan itu, klien gue meminta gue untuk gambar rendernya lebih bagus dan lebih halus lagi. Sebagai catatan, output yang gue kasih itu, gambar-gambar perspektifnya merupakan hasil capture dari sketchup blas. Gue bilang, “Wah, saya ga punya kapasitas ngerender. Yang dari saya itu emang bukan render kok. Tapi kalo mau gambar renderan, saya bisa referensiin ke temen saya yang bisa. Tapi dia ada hitungannya (fee) lagi.”

Hingga final pun, ending dari pekerjaan itu adalah output akhir gue yang berupa presentasi capture dari sketchup. Lalu gue kirimlah tagihan, dan pun akhirnya dibayar.

Lama waktu berlalu, gue ndilalah mendapatkan job lagi dari klien yang sama. Hanya saja, kali ini dia bilang, “Nis ada lagi nih project. Bikinin toilet ya. Tapi gambarnya yang bagus ya. Yang kemarin akhirnya kita (klien) render ulang.” Nah di sinilah gue baru ngeh ada satu kesalahan persepsi yang cukup penting. This is it:

x
Ini kutipan dari salah satu presentasi akhir yang gue kasi ke klien *ehm maap yak warnanya tampak norak, tapi gue menjelaskan materialnya kok.
IMG-20150513-WA000
Ini adalah gambar dari klien ketika dia bilang “Kita render ulang.”

At first, gue terlebih dulu minta maaf karena output yang gue kasi di pekerjaan yang lalu itu tidak sesuai ekspektasi. Tapi setelah gue pikir-pikir, duluuu banget, di pertama-pertama project ini, gue mengirimkan penawaran fee kok. Dan di dalamnya tertuang output apa saja yang akan gue kasih. Di dalamnya sama sekali gue tidak menyebutkan perspektif rendering.

Kejadian ini rupanya terulang pada teman gue yang kelimpahan pekerjaan toilet ini. Gue kan menyerahkan kepada dia karena gue tidak mempunyai kapasitas rendering. Jadi sudah jelas kan, brief awalnya adalah: temen gue diminta untuk merender pekerjaan toilet ini sekaligus menjadi 3d modelernya, sebab input yang kami terima memang hanyalah gambar dua dimensi dari CAD. Itupun dalam format pdf.

Baru saja hari ini terjadinya, temen gue diminta untuk merevisi spek dari first images yang dia sudah buat. Material lantai dan dinding diganti, serta sanitairnya pun diganti. Sang Klien meminta hasilnya hari ini juga. Teman gue membalas, “Ada baiknya spek seperti ini diberikan di awal Pak, agar lebih efektif. Di sini kan saya hanya 3D artist, bukan designer interiornya. Saya tidak bisa kalau hari ini, sedang nengok proyek…”

The big problem happen again.

Jadi gue bingung nih harus menjelaskan bagaimana dan dari mana.

So, Dear Clients,

Ada perbedaan jelas antara desainer (dalam hal ini gue membicarakan arsitekd an interior desainer) dengan 3d artist. Pertama sebelum semuanya dimulai, tanyakanlah pada diri Anda, apa yang Anda mau?

  1. Kalau Anda membutuhkan desain bangunan atau ruangan, maka mintalah arsitek atau desainer interior. Arsitek akan memberikan Anda konsep dan pengejawantahannya dalam bentuk gambar-gambar yang mendukung.
  2. Kalau Anda membutuhkan gambar impression (seperti gambar kedua), mintalah pada 3d Artist atau Impression Artist. Gambar tersebut adalah gambar yang berasal dari 3d modeling yang telah melalui proses rendering. Oleh karena itu, gambar tersebut disebut gambar render.

Jangan membolak-balik atau menyamakan tugas kedua profesi ini. Kalau Anda mau hasil desainnya, jangan mengharap Arsitek yang mendesain itu juga memberikan gambar hasil renderan. Begitu pula sebaliknya. Kalau Anda mau “gambar cantik”, jangan menyuruh 3d Artist untuk mendesainnya. Got it?

Mari gue perjelas. Kalau Anda membutuhkan keduanya, yakni desain dan gambar cantik, maka prosedur yang seharusnya dilalui adalah: mintalah kepada desainer (arsitek atau interior) untuk mendesain. Kalau desain dan konsepnya sudah cocok, pemilihan material sudah cocok, dan lain-lain sudah dikunci, maka selesailah tugas arsitek atau interior desainer. Lalu Anda pergilah pada 3d Artist untuk merender desain yang sudah Anda approve, dan JANGAN ADA PERUBAHAN kecuali perubahan minor yang tidak mengganggu proses rendering.

Memang ada beberapa arsitek dan interior desainer yang juga memprovide rendering. Tapi hitungannya pasti harus dibedakan dengan fee desain, atau kalusul output rendering harus sudah disebutkan di awal kesepakatan sebagai bagian dari paket pekerjaan. Hal ini juga harus diperhatikan baik-baik bagi para arsitek/ desainer interior agar tidak “ditindas”.

Arsitek dan interior desainer tidak memiliki kewajiban untuk merender. Sebaliknya pun demikian. 3d Artist tidak mempunyai kapasitas dan kewenangan untuk mendesain. Got it?

Oke gue akan lanjutkan nanti.

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s