BERPIKIR

Bajay

Bajaj (dilafalkan “ba-jai”) merupakan kendaraan beroda tiga yang banyak digunakan di Jakarta. Selain di Jakarta, bajaj juga ditemukan di kota Banjarmasin dan Pekanbaru serta beberapa ibukota kabupaten di Indonesia.

Bajaj diketahui berasal dari India. Nama bajaj sendiri sebenarnya merupakan merek salah satu perusahaan otomotif di India, Bajaj Auto.  Bajaj beroda tiga, satu di depan dan dua di belakang, dengan bentuk kemudi mirip seperti kemudi sepeda motor daripada kemudi mobil. Untuk di Jakarta, warna bajaj ada dua, yaitu biru dan oranye. Di pintu depan bajaj, biasanya tertulis daerah operasi bajaj, yang biasanya terbatas pada satu kotamadya saja.

Kapasitas penumpang bajaj adalah dua, atau ditambah satu anak kecil, yang semuanya akan duduk di belakang sopir bajaj. Suara mesin 2 langkah bajaj sangatlah memekakkan telinga. Namun, karena fisiknya yang relatif kecil, bajaj dapat diandalkan untuk menerobos kemacetan ibu kota.

(Wikipedia)

Bajay merupakan karakter yang unik kalo menurut gue.  Soalnya istilah bajay ini sering digunakan sebagai metafor suatu sifat. Seperti kata Om Wiki, “karena fisiknya yang relatif kecil, bajaj dapat diandalkan untuk menerobos kemacetan ibu kota”, istilah bajay sering dipakai untuk mengumpamakan sifat suka ngeles.

Yap ngeles. Jadi gue mau membahas kaitan bajay dengan ngeles hahaha (gaaaa penting).

Apa itu ngeles?

Susah sekali mendifinisikan kata ngeles. Udah cari ke Wikipedia tetap nggak ketemu juga. Menurutku ngeles itu artinya menghindar dari kesalahan. Menghindar kesalahan bisa dengan menimpakan kesalahan ke orang atau objek lain, atau menjawab dengan jawaban yg tidak nyambung. Contohnya ketika ditanya “Apakah anda mengambil keuntungan dari perkara yg ditangani?. Jawabannya harusnya iya saya bersalah ambil keuntungan dari perkara tersebut. Atau sungguh saya tidak mengambil keuntungan apapun dari perkara yg saya tangani. Ternyata jawaban yg keluar..”Demi Allah, saya tidak pernah menerima uang 10 Milyar rupiah”. Ini yg dinamakan ngeles, karena kalau dia terima 9 Milyar dia bisa ngeles lagi. Saya kan bersumpah tidak pernah terima uang 10 Milyar, tapi kalau 9 milyar kan saya tidak pernah bersumpah. Nah lho..  (Anton Pribadi)

Ada lagi yang menambahkan, bahwa ngeles itu adalah karakter yang suka mencari atau menuduhkan kesalahan pada yang bukan sesungguhnya, atau usaha membela diri secara subjektif dengan menimpakan kesalahan pada sesuatu (objek, pihak) lain di luar dirinya. (Heriyanto)

Kalo menurut gue, ngeles itu adalah kata lain dari berkelit, berdalih atau mencari-cari alasan. Jadi sifat ngeles ini bukan hanya seperti yang dicontohkan oleh Anton Pribadi, melainkan juga terkait dengan kasus apapun yang intinya ujung-ujungnya ada oknum yang berkelit.

Apa hubungannya dengan bajay? Nah sifat bajay dalam tata lalu lintas di Jakarta ya begitulah: berkelit. Dengan badannya yang kecil, dia bisa dengan mudah mencari celah agar selamat dari macet. Hal ini juga dapat menjadi analogi terhadap karakter orang yang suka ngeles atau berkelit. Kalo bajay diciptakan dengan meminimalisir badannya untuk menghindari kemacetan, orang yang pandai ngeles  meminimalisir resiko yang memberatkan dia dalam suatu kasus. Orang yang dijuluki bajay ini akan dengan sengaja mengeluarkan pernyataan yang tidak merujuk secara langsung pada suatu kasus, sehingga ketika kasus itu diangkat, kasus itu sendiri memang terbuka pada beberapa kemungkinan. Dengan minimnya bukti, dia memiliki alibi untuk bisa berkelit. Atau, bila perkara itu adalah perkara kuantitatif, dia dengan sengaja akan menyebutkan kuantitas yang memang diperkarakan, namun bukan yang sebenarnya. Contohnya, ya seperti yang dikemukakan oleh Anton Pribadi di atas itu.

Kedua, hubungan antara bajay dan ngeles, adalah karena kegesitannya. Kata bajay biasanya merujuk pada orang yang suka ngeles karena sifatnya memang dapat dianalogikan. Bajay, kalau cuma sekali-dua kali ngeles, dia tidak akan terkenal dengan sifat ke-bajay-an-nya. Oleh karena itu, orang yang dijuliki bajay adalah orang yang memang pandai berkelit. Kalau pada bajay sifatnya gesit mengendalikan stir, pada orang yang bersifat bajay, selalu ada saja cara dan alasan baginya untuk berdalih. Dia gesit memutar otak untuk memilih kalimat yang tepat untuk membuat orang percaya dalihnya.

Nah, apakah lo merasa menjumpai karakter bajay di sekitar lo? Pasang mata awas. Waspadalah. Kalau dia berkelit, maklumi saja sebab pada dasarnya, memang setiap orang butuh berkelit untuk dapat selamat dari sesuatu. Namun berhati-hatilah pada orang yang pandai berkelit alias si bajay ini. Jangan sampai dia merugikan lo. Sebab kalo kata X, bajay berdampak buruk diantaranya membuat kemacetan tambah parah, polusi semakin tinggi, pengemudi yang tidak patuh aturan, kelengkapan kendaraan dan mesin yang payah, menambah stress pengendara/pengemudi lain, serta merusak pemandangan kota.  Nah sama dengan dampak kehadiran para bajay pada hubungan sosial. Mereka bisa membuat masalah semakin parah atau malah menimbuklan masalah), dan membuat ketegangan semakin tinggi. Lebih parahnya lagi, bajay dapat membebani pikiran lo dan membuat lo stress, bahkan bisa merusak hubungan sosial lo dengan yang lain.

Lalu bagaimana cara berhadapan dengan para bajay?

Mengintip dari cara mobil-mobil di jalan, mereka mengambil jarak dengan bajay agar bajay leluasa lewat. Kita adalah mobil-mobil ini. Jagalah jarak dengan para bajay. Berilah ruang baginya, biarkan saja dia lewat.  Mobil-mobil menjaga jarak bukan karena kalah. Namun karena merasa diri terhormat sehingga tidak pantas berkelit seperti bajay itu dan tidak ingin kena resiko tergores akibat aktivitas berkelitnya si bajay. Begitu pula kita, jadilah mobil yang terhormat. Bukan lantas ini artinya menyerah pada si bajay, melainkan karena merasa tidak pantas berdekatan dengan perihal kelit-berkelit ini. Biarlah hanya para bajay yang berkelit, dan biarlah dia merasa nyaman dengan sifat kebajayannya itu. Orang yang merasa diri terhormat juga harus merasa tidak pantas terlibat di dalam perhelatan berkelit. Dan jangan sampai aktivitas berkelit si bajay menggores hati lo (jiee bahasa gue)..

Nah sekian pembahasan sifat bajay dari gue. Semoga bermanfaat. ^^

Sumber:

Wikipedia. diakses pada 27 Juni 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Bajaj

Anton Pribadi. 19 November 2009. diakses pada: 27 Juni 2010. http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/19/ngeles/

Herianto. 12 Juli 2008. diakses pada 27 Juni 2010. http://herianto.wordpress.com/2008/07/12/karakter-ngeles/

Organisasi.org. 28 Februari 2010. diakses pada 27 Juni 2010. http://organisasi.org/efek-dampak-buruk-bajaj-bajay-sebagai-kendaraan-umum-murah-di-jakarta

Advertisements

3 thoughts on “Bajay

  1. klo bokap gw, biasanya klo ada bajay, suka tambah dipepet tuh sa…jadi dianya ga bisa motong jalan dan stuck di tempat.
    mungkin ini juga bisa dijadikan tip dan trik untuk menghadapi orang ngeles. kita juga bisa menjadi mobil yang cekatan tak memberi ruang buat mereka berkelit, stuck dan mati kutu…wakakakakak

    1. wah!

      bener juga lo oi.. hmm ide bagus bagus bagus..
      iya juga ya.. kalo ‘si bajay’ pinter berkelit, kita juga patut dengan cara pinter nge-cut ke-bajay-annya itu.

      hmm jadi punya ide nih. mengintip dari pengalaman bokap lo, pastiya bokap lo udah tau dengan jelas karakter si bajay ini (barangkali juga udah mempelajari pola geraknya – jie bahasa gue). dan didukung pula dengan skill menyetirr bokap lo yang ampuh.

      brarti harus dicontoh juga tuh:
      1. pelajari pola si bajay
      2. pastikan bahwa kita bisa ‘menyetir’ dengan mahir, dan
      3. menguasai cara mojokin si bajay.

      waaaah terima kasih oieeeyyy’.. ^^

  2. payah ya?susah skali ngomong sama orang sperti bajaj…udahlah Allah hu alam kalo ditegur jg gak nyambung yag susah kalo ngeles ,ngeyel gakbisa ditegur tapi suka ngrepotin kita payah deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s