Uncategorized

So-called Friendship (1)

Retitled from: Siluman Ular Has Taken My Bro Away

Yang laki-laki adalah seseorang yang gue anggap sebagai abang. Dia adalah orang yang bersamanya gue merasa aman. Yang gue tahu dan gue cuma mau tahu, sampai saat akhir-akhir ini, adalah dia merupakan orang yang mengayomi dan melindungi. Dia menghargai gue, itu yang gue rasa. Dia juga mendengarkan gue. Ketika gue sedih, ketika gue kecewa, ketika gue dikecewakan. Dia juga memberikan saran dan masukan yang bisa gue dengarkan, tidak seperti komentar orang lain yang paling-paling hanya gue abaikan atau pura-pura mendengarkan saat dia mengatakannya padahal semuanya gue ignore. Dia juga membuat gue senang ketika sedang sedih. Kadang dia memperlakukan gue seperti anak-anak tapi gue tidak merasa keberatan.

Yang perempuan, dulu adalah orang yang gue benci. Mungkin sekarang masih. Di sebuah kepanitiaan dia pernah berlaku seperti musuh dalam selimut. Teman yang tidak menganggap temannya. Orang yang di depan bermuka manis bermulut madu padahal di belakang dia membicarakan gue. Lalu dia dan teman-temannya tanpa peringatan apa-apa, tanpa pemberitahuan sebelumnya, tanpa berbicara pad ague, tanpa sebelumnya mengutarakan apa yang mengganjal pada hatinya tentang gue, mereka, meninggalkan gue bekerja sendiri, bahkan mereka ingin memboikot gue. Mereka orang-orang yang bertopeng dua. Pandai berpura-pura. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan gue maafkan, tidak akan  gue lupakan kesalahannya. Pengkhianatan adalah dosa terbesar bagi gue. Dan akan menyakitkan kalo pengkhianatan itu dilakukan oleh orang-orang yang lo anggap tadinya teman.

Sejumput waktu yang lalu, mereka bertemu dalam sebuah kepanitiaan bersama dengan gue di dalamnya. Mereka berada dalam hirarki kepanitiaan yang berkerabat dekat hingga intensitas pertemuan mereka yang semakin meningkat tidak bisa dipungkiri.

Oh, tidak. Bukan pada kepanitiaan itu. Sebelumnya, gue sudah tahu ada tanda-tanda buruk yang akan terjadi. Gue, abang gue, dan teman-teman sepermainan gue, di selenting waktu sebelumnya, dulunya merupakan teman sepermainan yang menyenangkan, saling berbagi kegembiraan bersama, suka jalan-jalan, melakukan kebodohan bersama, bahkan sok-sok berjuang bersama – dalam sayembara dan kuliah kami. Kami juga bermimpi bersama, bercerita hidup kami, cita-cita kami, masa lalu kami,  sedih dan susah bersama.

Lalu Si Siluman Ular dan teman baiknya menginvasi pertemanan kami. Yaaa, gue bukanlah seseorang yang posesif terhadap teman. Tapi, kehadiran para ular itu membuat gue tidak nyaman. Gue membuat garis batas, ketika mereka, teman sepermainan gue yang gue cintai kesemuanya, sedang bermain dengan ular, gue tidak mau terkena bisa kesekian kalinya. Maka gue menarik diri dan mempersilakan mereka bermain sambil mengawasi dan memperingatkan akan racun yang mungkin bisa mereka bahayakan pada diri teman-teman sepermainan gue. Tapi hal itu berlarut. Mereka terlena dengan bermain dengan ular-ular itu. Harus gue akui memang, di luar dari sifat mereka yang berbisa, mereka memang orang yang menyenangkan. Tapi gue tidak mau begitu dekat dengan ular, karena gue takut ketika gue lengah dia memancarkan bisanya yang menyakitkan.

Ya, begitulah hal itu terjadi. Sampailah kami pada kepanitiaan yang membawa abang gue dekat dengan ular itu. Semakin dekat dan semakin dekat.

Puncaknya, di pelaksanaan kegiatan kepanitiaan itu. Oh, bahkan sebelum itu. Mereka semakin dekat. Gue merasakan, pikiran abang gue tidak sepaham dengan gue lagi. Di beberapa momen gue merasa dia seperti tidak mendengarkan gue lagi seperti dulu. Dia tidak lagi mengantarkan gue di malam yang gelap, bukan karena gue sok-sokan bisa dan berani pulang sediri, melainkan karena dia sibuk dengan ularnya. Well, sebenarnya tidak masalah juga dia tidak lagi mengantarkan gue pulang atau tidak makan dengan gue, atau tidak bermain dengan gue, tapi kenapa harus karena dia bermain dengan ularnya atau mengantarkan ularnya ke kandang?

Kenapa? Ada yang tidak suka dengan cap gue kepadanya sebagai ular? Lo harus tahu betapa sakitnya akan diboikot oleh teman lo tanpa sepengetahuan lo. Lo harus tahu dulu betapa lo berpikir, bukankah seharusnya ketika lo tidak suka dengan tindakan teman lo atau teman lo mempunyai kesalahan, lo bukannya membicarakan teman lo itu di belakang dan membuat bara dalam jerami, yang awal-awal tidak terlihat, tahu-tahu semua sudah terbakar, dan segalanya semakin buruk dan sudah terlambat, melainkan lo seharusnya menegur dia sebagai teman. Lo arahkan dia pada apa yang lo pikir baik. Lo tidak meninggalkan dia atau menjauhi dia, seperti yang dilakukan para ular berbisa itu, yang bermanis muka di depan sementara mereka menyerang lo dari belakang.

Mereka ular. Menjadi ular dalam hidup gue adalah kesalahan terbesar lo. Dan dengan tipu daya lo, lo memikat abang gue. Dia tersihir. Sekarang yang dia tahu hanyalah ular, ular, dan ular. Dunianya dipenuhi ular, ular dan ular, hingga sekarang, gue hanyalah satu titik kecil yang mungkin dia tidak notice.

Ya, lo telah sukses, wahai ular. You’ve taken my bro away. Harus lo tau, lo sangat hina di mata gue. Lo ga cuma merebut abang gue dari gue, tapi lo juga merebut abang gue dari kekasihnya. PUAS LO?!!!!! Lo adalah Pengkhianat. Lo adalah Racun Pengkhianat.

Ya, selamat, lo memang ular sejati. Lo ga tau betapa gue benci sama lo setengah mati!!!! Lo hina dina, dan betapa ingin gue meludahi lo dengan segenap kebencian gue pada lo. Betapa gue ingin merajam lo dengan bongkahan batuan dan caci maki. Betapa ingin gue mengembalikan apa yang telah lo perlakukan pada gue dulu ketika lo menikam gue dari belakang bersama teman-teman ular lo. Betapa ingin gue agar lo merasakan direbut sesuatu yang penting atau lo sayangi dalam hidup lo.

Harus lo tahu, wahai ular. Gue tidak akan melepas abang gue begitu saja dalam sarang ular lo. Boleh lo pinjam dan bawa dia. Toh lo memang menawarkan gula-gula dan kesenangan padanya. Gue akan senang ketika abang gue senang. Namun berhati-hatilah, karena gue akan terus mengawasi. Ketika lo membuang dia, atau menyakiti dia, gue akan turun bertindak dan saat itu habislah kau wahai ular!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s