TBC (1)
Tuberculosis.
Sekitar 2 bulan yang lalu, tiba-tiba gue dicengangkan dengan diagnosa dokter bahwa… Gue… Menderitaaaa.. (Jeng jeng) TBC!
What the?
Waktu itu, gue datang ke dokter karena ada benjolan di bahu, tepatnya di leher bagian depan, di atas tulang bahu (namanya tulang selangka kalo ga salah). Benjolan dalam bentuk apapun di tubuh mengkhawatirkan, makanya perlu diperiksakan, supaya segera tahu ada apa gerangan.
Benjolan ini keras, besarnya (dan kerasnya juga) seperti ada buah duku diselipkan di bawah kulit dan diganjal dengan tulang selangka yang melintang datar. Tidak ada rasa sakit sama sekali. Gue aja baru nyadar mungkin beberapa minggu setelah adanya benjolan ini.
Awalnya, gue yang orang awam ini sudah siap apabila dokter bilang kalo ini adalah pembengkakan kelenjar limfa (gue sudah bertanya2 pada mbah google sebelumnya), bahkan siap lahir batin apabila Sang Dokter menyatakan ini tumor kecil. Dalam skenario kecil-kecilan di otak gue, begitu dokter bilang demikian, gue akan langsung nyosor bilang, “Angkat aja, Dok! Kapan saya dioperasi?” Lalu skenario itu akan memiliki happy ending, dengan gue yang keluar RS dengan senyum lebar tiada benjolan.
Tapi ternyata tidak. Untuk menguji, Dokter memberi gue beberapa obat, yang seminggu kemudian dicek reaksi badan gue terhadap obat itu.
Seminggu kemudian, gue kembali dgn benjolan sedikit lebih mengecil. Kata dokter, benjolan itu bukan tumor, sebab apabila tumor, obat yang doi kasi kemaren itu ga punya efek apapun pada ukurannya. Jadilah dokter menanyakan gue beberapa hal:
Apakah gue batuk-batuk? Tidak sama sekali.
Apakah gue berkeringat kalo tidur di malam hari? Ya. Kadang gue juga bangun pagi dalam keadaan demam. Trus tidur lagi, dan jadi ga demam deh. Sehingga gue merasa itu hal yang biasa hehe..
Gue juga menambahkan, bahwa gue tidak batuk, namun kadang merasa sesak.
“Kalau begitu, tes selanjutnya,” kata dokter. Dokter menyatakan kalo begitu, kemungkinannya adalah tbc kelenjar atau tbc paru. Haaaaahhh??! (Hiks). “Ini saya kasih pengantar untuk rontgent dan tes dahak ya.”
Lalu gue protes, “Lho, dok, kan tadi saya bilang, saya ga batuk? Gimana bisa tes dahak kalo ga batuk?”
“Dicoba dulu, pasti bisa,” kata dokter, “Bagun tidur, langsung minum air dingin. Nanti langsung keluar dahaknya. Yaa, dicoba aja dulu.”
Gue merasa pernyataan ini agak ga logis. Tapi logisan mana sih antara gue dan dokter tentang kesehatan?
Tes dahak ini harus diambil 3 kali berturut-turut, setiap pagi setelah bangun tidur. Gue dikasi tabung preparat. Ternyata nama kerennya dahak itu adalah sputum.
Tes pertama, gue ga yakin yang gue masukin ke dalam tabung itu dahak atau ludah. Gue bener2 desperate nyoba ngeluarin dahak yang gue yakin ga ada itu, padahal udah minum air dingin segayung *lebay. Tapi ternyata di hari ke-2, malamnya gue begadang dan baru mandi jam 2 malam, lalu pagi2 melaksanakan seperti saran dokter. Alhasil, sejumput sputum pun keluar, meski ga sebanyak yang gue harapkan. Itupun diliputi cairan ludah, dan dahak itu dapat dikenali dari kekentalannya di antara cairan lainnya.
Eh, jorok ga sih bacanya?
Di hari ke-3 gagal. Gue sama sekali ga ngeluarin dahak. Dan gue menyadari bahwa gue harus mandi malam dgn air dingin lalu bangun pagi minum air dingin. Dan ternyata manjur. Untungnya selang 1 hari ternyata ga mempengaruhi hasil, kata petugas lab-nya gapapa.
Setelah hasil tes keluar, segera di tanggal yang ditentukan gue kontrol lagi ke dokter dengan menyerahkan hasil rontgent dan tes sputum. Begitu melihat hasilnya, dokter hanya tertawa.
“Jadi saya tbc dok?”
“Yah.. Apa boleh buat. Sudah qodar.”
TBC???? Ctaarrrrr!! *deskripsi yang berlebihan
Lunglailah gue bagai tisu yang direndam air. Lalu dokter mulai menjelaskan bagaimana pengobatan tbc dan treatment2 utk orang tbc.
TBC atau tuberculosis (atau sering juga disebut TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh Microbacterium tuberculosis. Kalo mau lebih lengkap dan ilmiah, silahkan buka kitab Wikipedia, dia menjelaskan dengan rinci ttg tbc. Kalo mau penjelasan bodoh-bodohan (bahasa awam dan sepengetahuan penulis saja), silahkan lanjut baca postingan ini heuehe. Nah si bakteri ini sebenernya ga cuma bisa menyerang paru-paru aja. Seperti yang gue sebutin di atas, tbc juga bisa menyerang kelenjar limfa. Bahkan bagian2 tubuh yg lain, seperti rahim.
Gejala seseorang terkena penyakit tbc adalah bisanya berkeringat banyak di malam hari, berat badan susut jauh sekali (jadi kuruuss banget). Kadang juga demam. Lalu ada juga yg disertai benjolan di leher.
Nah benjolan di leher ini (seperti yg terjadi pada gue), adalah kelenjar limfa yg membengkak. Kelenjar limfa ini tugasnya terkait dgn pertahanan tubuh. Kelenjar ini tersebar di seluruh bagian tubuh dan membentuk jalur yang terdapat beberapa simpul. Simpul2 ini antara lain di leher, ketiak, dan selangkangan. Masing-masing mengemban tugas menjaga pertahanan tubuh di wilayahnya masing-masing. Kelenjar ini juga berperan kayak alarm tubuh. Kalo ada bagian di wilayahnya yg terserang, dia membengkak untuk menandakan dia ‘butuh bantuan’, sebab itu artinya dia udah berusaha mengerahkan sel2 limfa namun ga cukup kuat melawan serangan itu.
Sebagai gambaran, misalkan, titik di leher, melindungi wilayah seputar kepala dan dada. Termasuk gigi, mata, dan paru. Makanya waktu gue kasitau ada benjolan ini, do
kternya juga nanya, “Ada bolong di gigi nggak?” Gue jawab nggak. Dokter pun memeriksa sendiri dan memang ga ada. Makanya, ketika ga ditemukan ada bolong di gigi, dokter mencurigai ada apa-apa di paru-paru gue.
Dokter melihat kesedihan dan kekhawatiran gue. Lalu dia menjelaskan, “Banyak orang punya anggapan bahwa tbc itu penyakit orang miskin. Salah itu. Tbc bisa menyerang siapa aja. Dulu malah saya punya pasien ibu2, cantik, kaya banget. Dia nggak bisa2 punya anak, udah berobat sana-sini. Pas dateng ke saya, baru ketauan, ternyata dia punya tbc di rahim. Itu sebabnya dia ga bisa punya anak. Kalo dipikir2 kan orang kaya, dapet infeksi tbc dari mana? Rahim pula. Ya semuanya emang qodar.”
Akh. Yasudahlah. Itu cukup menghibur juga. Sebenarnya yang membuat gue sedih adalah bahwa orang yg berpenyakit tbc peralatan makannya harus dipisah dengan orang lain. Dokter ini menyarankan gue, “Sebaiknya, peralatan makannya dipisah.” Mata gue terbelalak tanda keberatan. “Kalau susah, yaaa sebenernya yg penting sendok aja sih. Soalnya kan sendok langsung kena mulut, kalo peralatan yang lain kan nggak.” Sekian lama gue antara percaya dan ga percaya dengan pernyataan ini, sampai akhirnya gue dapat penjelasan yg memuaskan dari suster yg gue pindah RS utk kontrol.
Jadi begini, ada beberapa cara (yg gue ketahui) untuk mendeteksi penyakit tbc. Yang biasa dilakukan adalah tes rontgen dan tes dahak/sputum. Ada lagi tes kulit (nama kerennya apa yak, lupa). Kalo rontgent, semua udah tau dongs.. Untuk tes dahak, hasilnya bisa positif (tulisan hasil labnya sih Br+), bisa juga negatif (tulisan hasil labnya “tidak ditemukan”).
Nah ternyata, positif/negatifnya ini adalah untuk mengenali apakah tbc ini menular atau nggak. Kalo positif, artinya dalam dahak terkandung si bakteri keparat itu (ups maaf ya bakteri). Artinya, tbc yg diderita pasien sedang tahap lucu-lucunya (aktif gitu maksudnya), suka main2 keluar tubuh, susah dibilangin. Kalo pasien batuk atau bersin, percikan dahak/ingusnya mengandung bakteri tbc dan bisa hinggap ke orang lain lewat udara. Oleh karena itu, utk pasien yang aktif batuknya disarankan pake masker. Dan secara umum, kita harus mempraktekkan tata cara batuk yang benar (sila dilihat di rumah sakit – rumah sakit atau klinik); kalo ga salah: menutup dengan tangan, atau batuk/bersin di bawah ketiak/lengan baju. Untuk yang br+ ini juga, sebaiknya memisahkan peralatan makan dan minum, atau setidaknya jangan berbagi makanan/minuman dalam satu wadah dalam sekali waktu (misalnya, minum apa gitu sebotol/sekaleng berdua/beramai-ramai/ secara bergantian).
Tapi tunggu dulu. Jangan merasa bahwa penderita TBC itu berbahaya atau membahayakan sekitar (bagi yang menderita), dan jangan merasa penderita TBC itu mengerikan sehingga harus dijauhi (sebagai penderita TBC gue berharap orang mengerti dulu TBC itu bagaimana dan gak serta merta menjauhi ya
).
Sebagai perumpamaannya gini. Kalo musim ujan kan biasanya banyak yang kena flu nih. Nah coba deh perhatiin ‘siklus’ penularan flu ini. Biasanya awalnya cuma ada seorang yang kena, lalu dia bersin-bersin terus. Nah dari sekian banyak sesi bersinnya yang tidak tertutupi, pasti ada satu sesi di mana dia bersin, dekat dengan orang lain (si B). Besoknya, si B pasti punya gejala flu. Kurang lebih demikian. TBC itu sama aja kayak flu. Meskipun penyebabnya beda (flu-virus, TBC-bakteri), flu dan TBC sama2 ditularkan melalui udara, caranya adalah saat bersin/batuk. Bedanya, karena TBC disebabkan oleh bakteri yang ‘istimewa’ (gue akan menyimpan kisah tentang keistimewaan bakteri ini untuk episode selanjutnya), pengobatannya pun juga ‘istimewa’. Kabar baiknya adalah, TBC sekarang sudah bukan momok lagi, sebab pengobatannya udah diketahui dan udah distandarisasikan secara internasional, tidak seperti dulu, yang masih belum ketemu ‘kunci’ pengobatannya.
Nah balik ke topik tes sputum. Untuk yang hasil tes sputumnya negatif, perlu dilihat kembali hasil rontgent parunya (utk yg tbc paru). Kalo kesan yg ditunjukkan rontgent adalah TBC paru, artinya dia menderita benar mengidap TBC paru, hanya saja tidak menular.
Baik hasilnya negatif maupun positif, kalo seseorang telah didakwa TBC oleh Majelis Yang Maha Kuasa, maka dia harus menjalani pengobatan selama 6 bulan tanpa putus untuk sembuh.
Oooiya! Sampe lupa. Untuk tes yang satunya lagi (tes kulit), gue ga bisa cerita banyak, soalnya ga ngalamin sendiri. Tapi sempet ada tetangga gue yang diduga dokter sakit TBC, lalu dikasi tesnya tes kulit. Nah dalam tes itu, kulit pasien ditetesi sebuah cairan (ga tau apa dan agak males cari hehe) di lengannya (kalo ga salah sih bisa di bagian tubuh yang lain). Nah. Bila keluar bekas menyebar/meluas, maka si pasien positif TBC. Tapi kalo hasilnya bekas tidak menyebar atau ga ada bekas, maka dia tidak menderita TBC.
Nnnaaaah.. Sepertinya demikian dulu. Eniwei, long time no blogging ya ternyata. Gue udah hampir setaun ga nulis blog!
Banyak yang pengen gue ceritain tentang TBC. Untuk sekarang, gue ceritanya cukup tentang apa itu TBC dan gimana tanda2nya dulu, dan sedikit selingan tentang treatmentnya. InsyaAllah selanjutnya gue mau ceritain tentang pengobatan TBC dan penanganan kasus khusus seperti yang gue alami :p. Sampe di sini dulu yaa.. Daaa!
Posted with WordPress for BlackBerry.
About this entry
You’re currently reading “TBC (1),” an entry on another life journal
- Published:
- January 18, 2012 / 10:06 pm
- Category:
- mari sok berpikir dan berkomentar
- Tags:
4 Comments
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]