Mengejar

Tuhan, aku mengejarmu, dalam keadaan gopoh dan hampir roboh. Napasku meringkik rintih, jalanku tertatih, karena badanku letih.

Siangku semakin terik, dengan segala rayuan yang kian mencekik. Jika aku diam terlena mereka akan terus memanja. Namun jika aku ingat padaMu, lari sejenak dari mereka, mereka akan memaksa. Memaksa aku untuk tetap diam saja dan terlena. Mereka selalu ingin jadi yang pertama. Ketika aku terus berusaha, meronta, mereka menyiksa, mencengkram, menghujam, merajam.

Mengapa mereka tidak suka padaMu? Mengapa mereka tidak pernah sejalan denganMu? Mengapa mereka seperti tidak suka aku padaMu?

Aku mereda. Kembali terlena, dengan luka cabik dan bekas cekik. Mereka senang, bila aku kembali datang. Mereka memanja dan membuat terlena. Namun ketika aku kembali ingin sejenak pergi, mereka menghadang lagi. Meradang mereka ketika tahu aku hendak beranjak. Mereka pasang pandang seolah ingin perang. Mereka tidak pernah biarkan aku sampai ambang.

Tuhan, siangku semakin terik, dengan segala rayuan yang kian mencekik. Mengapakah aku tidak kau lirik? Setidaknya lemahkanlah mereka atasku, lepaskan belenggu yang mengganggu. Biarkan sebagian besar napasku hanya untukMu.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisement

About this entry