Hari Wesi
Padahal ke Ubudnya udah lama, tapi baru sekarang gue tulis haha.
Di Ubud, gue dan Oi kan ceritanya modal nekat siap tersesat tuh. Jadi di sana kami benar2 ga mau berlanja lenje kemana-mana naik taksi atau travel. Dan ternyata Ubud adalah tempat yang paling tepat untuk mentersesatkan diri dalam ketenangan sekaligus (untuk pengalaman gue dan oi) ketegangan (woelah ga tegang juga si).
Hari pertamanya (Jumat, 6 Mei 2011)kan kami seharian di Gaya Fusion untuk TEDx Ubud), nah di hari keduanya kami berencana untuk keliling2 Ubud, lalu ke tempatnya Mba Sekar di Kuta dengan mampir terlebih dulu di Pasar Sukawati. Perkiraan kami bisa sampai di Kuta sore hari. Kata Mba Sekar ada tempat jajanan sejenis pasar malem gitu yang makanannya enak2 dan rame-seru. Kalau bisa sampai cepat malah kami bisa ke pantai dulu, main2 dulu dengan pasir, baru ke pasar malem itu. Jadi kami sangat excited, berhubung di malam harinya kami harus terbang kembali ke Jakarta.
Bangun menjelang jam 9, dengan layah-leyeh kami bersiap. Pagi itu gue sangat excited sehingga mandi duluan dan langsung pesen sarapan sama Mama, begitu kami memanggilnya, sang Tuan Rumah Loka House.
Karena punya waktu cukup lama untuk menunggu sarapan tiba dan Oi bersiap, gue jadi punya waktu yang cukup lama juga untuk mengamati kegiatan keluarga Mama. Waktu itu gue berpikir, ini apa gue yang baru liat, atau emang Mama bikin sajen lebih banyak dari yang biasanya gue liat ya? Hmmm..
Meskipun udah gue tanya, dan Mama pun menjelaskan, bahwa itu semua untuk upacara, tetap gue nggak ngeh maksudnya apa haha.
Lumayan banyak gue dapet wejangan dari Mama, dan lebih banyak lagi pas Oi datang. Kebanyakan tentang bahwasanya kita (gue, Oi, dan Mama) sebagai cewek harus pinter2 milih cowok. Haha. Ada2 aja.
Hari itu kami berencana ke Museum Antonio Blanco, salah satu tujuan terdekat dari Jalan Monkey Forest. Letaknya juga ga jauh2 amat dari tempat kami menginap, yakni di Jalan Hanoman. Lagipula hampir semua turis di situ juga pada jalan. Dan jalanannya yang di banyak bagian terbuat dari paving block pun membuat jalan itu terdefinisi dengan sendirinya sebagai “tempat para pejalan kaki juga”, bukan cuma “untuk mobil aja”.
Jadilah kami berjalan-jalan riang sambil ngobrol. Dari sepanjang jalan setapak dari Loka House ke luar (ke Jalan Hanoman), kami menjumpai sajen-sajen kecil diletakkan di tengah jalan setapak. Gue yang jalannya suka ceroboh sering banget hampir nginjek sajen yang dibuat dari beberapa helai kelopak bunga, nasi, sejenis rumput2an, dan dupa dengan bertadahkan daun kelapa yang dilipat menjadi wadah kecil itu.
Suatu hal yang unik dan menyenangkan dari Bali.
Mungkin hal itulah yang membuat gue jadi berpikir ‘biasa aja’ ketika ngeliat motor-motor, sepeda-sepeda, dan mobil-mobil di jalan pada dipasangkan sajen. Kekaguman gue pada masyarakat Bali bertambah. Mereka memang teguh menjaga tradisi ya, pikir gue dalam hati.
Dan bla bla bla, kami pulang dari Museum Antonio Blanco untuk bergegas check-out karena ternyata kami keasikan di sana sehingga melampaui waktu yang diperkirakan. Hari sudah hampir jam setengah 1 WITA ketika kami pamitan dengan Mama. Dari Mama, kami dapet wejangan tentang lelaki (lagi hehe) dan di mana-mana saja kami bisa dapat angkot untuk ke Pasar Sukawati. Juga tentang trik menawar harga di sana hehehe ..
Kami jalan membawa gembolan tas ke Pasar Ubud. Di sana juga ada pernak pernik dan segala barang yang bisa dijadikan oleh2, tapi menurut Mama dan orang yang kami ajak ngobrol di sebuah toko postcard, kalo ada kesempatan ke Sukawati mendingan belinya di Sukawati aja. Harganya lrbih murah dan bisa ditawar lebih murah dari yang di Pasar Ubud.
Di pasar Ubud, kami sempat mampir sebentar di cafe yang ada persis di depan Pasar Ubud itu sendiri. Selain karena nunggu angkot ke pasar Sukawatinya yang belum ada, waktu itu juga tiba2 hujan, dan kebetulah kami kelaparan (belum makan siang) dan kebetulan ada cafe yang bisa jadi tempat berteduh sekalian makan hehe. Setelah makan, kebetulan juga hujan berhenti dan angkotnya datang haha. Jadi serba kebetulan yang menyenangkan deh..
Tapi angkot2 di sini ga pake sajen.
Segera kami naik angkot. Abangnya bilang, bahwa angkot ini ga langsung ke Pasar Sukawati, tapi harus jalan dulu sedikit. Tapi itu oke2 aja, kami ga keberatan.
Naik angkot di sini lega. Mobilnya adalah mobil2 minibus gitu soalnya. Mana jendela semua dibuka, dan ga ada macet kayak di jakarta. Perjalanan terasa singkat dan menyenangkan, ditambah dengan semilir angin hmmmmm.. Dan untuk perjalanan sejauh itu kami cuma perlu bayar Rp 5.000 per orang haha. Betapa menyenangkannya.
Turun menjelang Pasar Sukawati, sang angkot belok dan kami harus berjalan lurus. Dengan mudah kami bisa menemukan penampakan sang pasar. Namun rencana kami yang tadinya mau nitipin barang2 di kantor travel ternyata ga bisa terlaksana karena ga ada kantor travel di sana hahaha *dasarmodalnekatsiaptersesat.
Akhirnya kami memutuskan untuk gantian, salah satu jagain barang, yang lain belanja. Dan hal inilah yang membuat pelaksanaan semakin ga sesuai dengan prediksi awal. Taulah, for girls, one hour is never enough to shop Haha.
Dan waktu sudah sangaaat kesorean. Sekitar jam setengah 4 kami selesai, dan segera nyari angkot lagi supaya masih bisa dapet sholat ashar di tempat Mba Sekar.
Ini dia masalahnya. Kami terluntang-lantung ke sana kemari nyariin angkot atau taksi tapi ga ada yang bergeming melirik kami. Haha.
Di sore itu semua mobil tampak berlekas-lekas. Motor-motor juga pada bergegas. Dan orang-orang yang mengendarainya tampak memakai baju formal tradisional. Kendaraan mereka berhiaskan sajen-sajen yang gue lihat dari sepagian tadi.
Di sinilah akhirnya kami mendapat penjelasan bahwa hari ini adalah Hari Wesi, dari sekumpulan warga yang duduk2 dan melihat kami seperti anak ayam kehilangan induk hahaha. Mereka menjelaskan bahwa semua kendaraan lagi diupacarain. Jadi jangan berharap bisa memberhentikan mereka. Upacaranya baru selesai sekitar jam 5-an. Jadi mungkin di jam 5-an sudah ada mobil yang sudah bisa narik lagi.
Haduh. Padahal kami butuh ngejar waktunya. Nunggunya si gapapa. Tapi sholatnya yang susah. Sambil nunggu pun kami tetap berjalan sambil nyari ruangan di tempat umum yang bisa kami pinjam untuk solat. Tapi ga dapet haha.
Beruntung jam setengah 5-an sudah ada angkot yang bisa narik. Dia menawarkan jasa nganterin, tapi tarif yang dipasangnya (menurutnya) lebih mahal. Kami kena Rp 30.000 seorang. Menurut gue gapapa kok. Kau sudah jadi our hero bang, tancaaaps! Haha.
Ya begitulah. Beberapa cerita gue pangkas. Akhirnya kami bertemu Mba Sekar dan dia bilang lupa ngabarin kalo hari ini Hari Wesi. Dari penjelasannya, gue baru tahu kalo di Hari Wesi ini, ga cuma kendaraan aja yang diupacarai, tapi juga segala perkakas dan peralatan rumah tangga yang terbuat dari besi, lebih tepatnya maksudnya adalah terbuat dari logam.
Nah untuk Hari Wesi ini sendiri ternyata pas gue cari-cari gue ga ketemu literatur lain yang menceritakan Hari Wesi. Jadi gue cuma bisa cerita versi gue yah hehe. Mungkin juga nggak ketemu karena sebenarnya namanya bukan Hari Wesi haha. Di Hari Wesi ini mereka nggak melakukan suatu hal yang di luar dari kebiasaan (misalnya puasa, dll.). Mereka tetap beraktivitas seperti biasa. Kendaraan-kendaraan juga dipakai sewajarnya. Hanyadi sore hari itu mereka ga bisa diganggu gugat karena mereka mau mengupacarakan logam milik mereka.
Kalo kata Mba Sekar, di Hari Wesi ini mereka membersihkan barang-barang logam mereka dan mendoakannya; baik itu kendaraan, perkakas pertukangan, pisau, dan lain-lain. Tujuannya supaya selalu ada kebaikan dalam logam-logam tersebut.
Gue langsung teringat dengan Patih haha. Orang Bali itu unik sekali. Mereka tidak pernah menganggap suatu barang adalah sekedar “barang”. Mereka me”nilai” setiap barang di sekitar mereka, seakan-akan mereka semua adalah makhluk hidup. Dengan demikian, semua barang dianggap sejajar dengan manusia, diperlakukan dengan baik dan mereka selalu berusaha hidup selaras dengan “barang”2 itu. Bayangkan, benda logam aja diupacarain. Itu adalah hal yang menurut gue mengagumkan. Ada baiknya juga ya kalau pemikiran ini kita resapi baik2.
About this entry
You’re currently reading “Hari Wesi,” an entry on another life journal
- Published:
- July 22, 2011 / 12:45 pm
- Category:
- mari sok berpikir dan berkomentar
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]