The Nurturing Ubud
Haiyah.. akhirnya gue tulis juga ini postingan yang kiranya udah basi sebulan yang lalu haha (as always).
Sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 6 Mei 2011, gue dan Oi bertandang ke Ubud demi sebuah acara, yakni TEDx Ubud. Sebenarnya gue (dan mungkin juga Oi) ketika meregister untuk TEDx Ubud ini sama sekali tidak kenl dengan satupun pembicaranya lho. Juga curratornya. Jadi, kami hanya datang karena panggilan hati (woelah).
salah satu teman gue yang kami bertemu di sana berkata (setelah cipika cipiki), “Enough, mingle, mingle!” sambil mengibaskan tangannya menyuruh kami membaur dengan yang lain. Dengan segera kami menghilang dalam kerumunan orang yang kebanyakan bukan wajah pribumi. Di dalam acara ini sendiri, gue sendiri ga banyak berkenalan dengan orang, meskipun semua orang di sini, baik attendee, volunteer, team TEDx Ubud sendiri, sampai para pembicaranya bisa punya banyak waktu untuk saling berkenalan, ngobrol, dan lain sebagainya.
Ada salah satu wanita yang kami berkenalan dan kami punya cukup banyak waktu ngobrol. Namanya Alexandra du Sold. Ada satu hal yang menarik yang dia ceritakan, yang membuat gue berpikir untuk mengambil benang merah dari kesemua pembicara TEDx Ubud, kenapa mereka menetap di Bali, sampai kenapa ada buku dan film Eat Pray Love.
Bahkan Alexandra gue rasa lebih ‘memiliki’ -belongs to- Ubud ketimbang gue dan Oi yang notabene warga negara sendiri (haha iyalah, ini sama sekali ga ada hubungannya dengan nasionalisme). Alexanda menceritakan, dia sudah bulan ketujuh tinggal di Ubud. Dia adalah penulis, kebanyakan tulisannya adalah cerita fiksi. Ohya. Namanya emang kedengeran Perancis, tapi dia orang Jerman. Dia sudah pernah hidup di berbagai kota di belahan dunia. terakhir adalah London, yang dia di sana juga bekerja sebagai penulis. Lelah dengan London, dia ke Ubud dan rasa-rasanya ga mau balik lagi deh ke London (dari caranya menyebutkan dan menceritakan London, dan dia pun menyebutkan sendiri bahwa dia ga mau balik lagi ke sana hahaha).
Alexandra bilang, ada hal yang magis dari Bali.
Bali emang jadi tempat wisata sorotan dunia, dan banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang datang ke mari. Tapi jangan salah, ga sembarang orang bisa tinggal dan menetap di Bali. Bali memiliki kekuatan feminin yang sifatnya meramut. “Nurturing” kalo kata Alexandra. Kata Alexandra, “When going to Bali, you don’t need to know what to do, your aim, your purpose. Bali will call you. Bali will tell you.”
Dan ga semua orang bakal cocok di Bali. Kekuatan magisnya yang bersifat feminin, keibuan, meramut inilah yang akan menentukan. Katanya, banyak dia lihat teman2nya yang ‘ga cocok’ di Bali.Orang-orang yang datang ke Bali adalah orang-orang yang memang dipaggil oleh Bali. Dan setelah nurturingnya selesai, atau energi lo ga cocok dengan Bali, Bali will kick you off. Dengan berbagai cara. Entah itu karena tugas/urusan lo udah selesai, entah karena lo kehabisan uang dan ga bisa bertahan lagi di Bali, entah karena ada suatu hal yang memanggil lo atau harus lo kerjakan di luar Bali, entah karena lo ga bisa bersosialisasi dengan baik dan akhirnya tidak diterima oleh leingkungan, dan masih banyak lagi.
Dai bilang, di sana, dia bisa duduk berminggu-minggu di depan komputer dan hampir tidak mengerjakan progress yang berarti. Tapi begitu di Bali, ide dengan mudahnya meluncur. Hal ini dia bilang, dia rasakan di Ubud.
Kayaknya memang orang-orang yang ke Ubud adalah orang-orang yang mencari ketenangan berpikir.
Soalnya akhirnya gue sadari setelah mendengar kesemua talk yang ada di TEDx Ubud. (untuk lebih lengkapnya, videonya udah diupload kok.. cari aja di http://tedxubud.tumblr.com/). Lihat mereka.. Mereka menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka di Bali.. Bali seperti sebuah escape yang menampung orang-orang ‘hilang’, jadi rumah asuh bagi mereka, dan kemudian membesarkan mereka dengan nama-nama hebat.
Waw. Dan gue ga tau bagaimana mengakhiri postingan ini, sebab sepertinya ada yang belum gue sampaikan.. Hmmmmmmm….
About this entry
You’re currently reading “The Nurturing Ubud,” an entry on another life journal
- Published:
- June 17, 2011 / 11:00 am
- Category:
- mari sok berpikir dan berkomentar
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]