Tanjung Lesung Ecosport

Huh. Paling sebel deh kalo nungguin sesuatu lamanya setaun! Nih contohnya, gue lagi nungguin skecapan yang sebenernya cuma tinggal copy-paste antara file gue dan file partner gue supaya sinkron tapi dari gue belom makan, sampe udah selesai makan disertai ngobrol2 yang lamaaaa banget, dari belom solat, ampe solat selesai, dari gue pengen boker, ampe boker udah selesai pula, tetep aja satu unit yang  dicopy ini tak kunjung bergeming. Emang sih file-nya berat banget. Gue jamin kalo ga pake komputer kantor gue ini pasti komputer lain udah give-up. Yaudah daripada kelamaan bengang-bengong ga jelas cuma nungguin si bundaran ini berputar beratus-ratus kali, dan daripada gue kelamaan pidato pembukaannya (hehe) mendingan gue bayar hutang gue: menulis tentang ecosport Tanjung lesung! Hahahaha..

Hmmm ternyata udah sebulan aja ya semenjak acara Tanjung Lesung Ecosport. Beruntung banget ya rasanya gue secara mengalir begitu saja menjadi bagian dari PPCAI. PPCAI adalah Pengurus Pusat Yayasan Cinta Alam Indonesia. Yayasan ini bergerak di bidang pembinaan sumber daya manusia dan peduli alam. Ada banyak divisi dalam PPCAI. Salah satunya adalah divisi yang mewadahi minat dan hobi anak muda (jeile) dalam penjelajahan dan peduli lingkungan. Nah, ada lembaga pecahan PPCAI yang udah maju lebih dulu dan fokus di bidang peduli lingkungan, yakni CAI Diving Banten. CAI Diving Banten ini mengkhususkan diri pada kelautan, mulai dari olahraga laut, sampai segala hal yang menyangkut peduli lingkungan kelautan, yakni pelestarian ekosistem laut. Nah untuk keseluruhan paragraf ini, CMIIW yaaa, kali aja penjelasan gue ada yang beda makna.

Nah, tanggal 28 April yang lalu, CAI Diving Banten mengundang PPCAI untuk ikut dalam acara yang diselenggarakannya dengan Krakatau Steel, yakni Earth Day 2011 dengan tema Ecosport for Earth. Di dalam acara ini, ada berbagai kegiatan, diantaranya mangrove forest trekking & cleaning up, mangrove forest biking, eco-snorkelling, dan program edukasi masyarakat tentang pelestarian hutan mangrove. Ada beberapa kegiatan keakraban juga, lomba kanoeing, dan hmmm apa lagi yak gue lupa hehhe.

Acara ini diadakan cuma seharian dalam hari Sabtu itu. Jadi, semuanya dibikin paralel (kemudian gue menyadari bahwa memang ga bisa peserta mengharapkan ikut semuanya) dan peserta dibagi menjaid beberapa kelompok. Mangrove trekking & cleaning up diparalelkan dengan biking dan edukasi pelestarian mangrove. Untuk yang kedua ini, gue ga begitu memperhatikan sih, tapi kalo ga salah orang2 yang khusus datang dengan sepeda gunung dibekali buku-buku tentang pelestarian alam, dan mereka akan membagikan paket tersebut ke SD yang sudah mereka rancang treknya. Nah kalo gue ikutan di acara mangrove trekking & cleaning up.

Btw, pesertanya beragam lho, mulai dari Karpala (Karyawan Pecinta Alam – Krakatau Steel), PPCAI, sampai perwakilan Pramuka dari SMP tertentu (hehe gue lupa nanya dari SMP mana). Awalnya gue pikir, ih kok gue disamain sama anak SMP? Whoooo! gue langsung menyoraki diri gue sendiri, “Heh jangan anggap remeh dulu. Justru dari orang muda inilah bakal timbul semangat dan kompor2 baru untuk pelestarian alam, ya gak?” (haha terdengar idealis ya).

Abis dibagi menjadi berberapa kelompok, masing2 kelompok punya 2 orang pendamping dari panitia yang bakal meng-guide jalan kami sambil

Tenyata kegiatan mangrove trekking dan clening up ini ga cuma jalan2 aja sambil bersihin sampah2 yang ada di hutan mangrove itu. Kami juga diberi edukasi tentang ekosistem mangrove, mulai dari pengertian ekosistem, sampai mangrove dan segala jenisnya.

Hmmm ini sebagian dari edukasi yang gue inget aja yah. Ekosistem itu adalah segala makhluk hidup dan tidak hidup (bener gak sih bahasanya?) yang tinggal dalam suatu wilayah dan telah saling berinteraksi. Interaksi ini membuat mereka jadi saling menguntungkan dan membutuhkan satu sama lain. Singkatnya, bedanya misalkan gini: kita datang wisata ke gurun sahara, trus kehabisan bekal dan akhirnya mengambil air dari kaktus yang ada di sana. Kita bukan bagian dari ekosistem gurun sahara itu, karena tidak terjadi hubungan timbal balik antara kita dengan ekosistem Gurun Sahara. Hehe kayak merefresh kembali pelajaran SD yh. Tapi ternyata ini baru dasarnya. Setelah kmi paham dulu apa itu ekosistem, baru deh masuk mengenal mangrove itu apa.

Ternyata mangrove bukan pohon bakau doang lho. Hahaha. Ini yang kebanyakan orang (termasuk gue) suka salah kaprah. Yang namanya mangrove itu ternyata adalah golongan tanaman yang hidup di antara dua dunia: antara darat dan air, dan antara air asin (laut) dan air tawar. Jenis pohonnya sendiri bermacam-macam. Bakau hanya salah satu dari ratusan (atau ribuan) jenis spesies lainnya. (Wow it’s amazing gue masih bisa mengingatnya hahahhaha).

Jadi, ada banyak jenis tanaman yang termasuk mangrove. Mereka biasanya tumbuh beramai-ramai di bibir pantai sehingga membentuk hutan. Inilah yang disebut hutan mangrove. Nah bentuknya hutan mangrove juga bermacam-macam. Ada kumpulan hutan mangrove yang hidup di daerah pasang surut, sehingga sirkulasi air terjadi cukup sering. Ada juga yang tinggalnya di semacam laguna. Hmmm jadi kayak ada cekungan di antara daratan dan pantai, sehingga cekungan ini terus terisi air. Tipe hutan mangrove yang ini mengalami sedikit sekali pergantian air. Seringkali hutan mangrove ini keliatan kayak rawa-rawa, kayak sebagian hutan mangrove yang kami susuri di acara ini. Butek dan kelihatan tidak menarik. Tapi jangan salah, air di dalamnya ternyata bagus banget untuk nursery para ikan, soalnya selain banyak nutrisi juga arusnya relatif tenang untuk mereka yang masih belajar berenang (woelah).

Naaaaah.. Trus kenapa dong kita perlu tau tentang mangrove? Jadiii mangrove ini ternyata punya pengaruh besar terhadap jumlah ikan di laut dan penanggulangan bencana.

Karena sifat mangrove yang murturing/nursering, ikan2 diasuh dulu di sini, barulah setelah cukup dewasa mereka terjun ke laut lepas.  Jadi, ikn2 berkualitas yang kita konsumsi sebagian adalah hasil asuhan ibu2 mangrove. Selain itu, sifatnya yang demen berkumpul menjadi hutan ini, disertai dengan akarnya yang menyebar di darana dan jauh menusuk de dalam tanah bisa meredakan arus laut, meredakan gelombang pantai, bahkan bisa meredakan amukan tsunami, karena mereka seperti garda depan yang menghadang terjangan arus (woelah lebay banget bahasa gue).

Manusia, sering memanfaatkan keindahan pantai dengan membangun resort indah dan untuk tujuan itu sering mengesampingkan hutan mangrove (a.k.a. banyak hutan mangrove yang dibersihkan untuk jadi lahan resort). Banyak juga sih kepentingan manusia yang lainnya yang menghalalkan pemberantasan hutan mangrove. Pentingnya hutan mangrove baru disadari ketika ada bencana. Contohnya Tsunami. Padahal sebenernya peniadaan hutan mangrove ini udah dirasakan para nelayan (ikan2 tangkapan mereka semakin berkurang). Lebih parahnya lagi, pengrusakan hutan mangrove juga punya dampak ke terumbu karang. Soalnya dengan berkurangnya jumlah ikan yang main-main ke terumbu karang, berkurang juga makanan terumbu karang itu, sebab ikan dan terumbu karang sudah bersahabat sejak lama dengan menganut simbiosis mutualisme haha.

Begitu gan. Hadeh tau gak sih ini gue mau ngesave aja kudu nunggu 10 detikan cuma untuk ngetik SATU HURUF untuk judul file-nya! Grrrh!!! (oke ini intermezo). Mari lanjutkan.

Ya begitulah. Kadang pertumbuhan hutan mangrove juga terhambat cuma gara2 sampah. Yak. Sampah. Sampah-sampah yang dibuang ke laut toh juga harus berlabuh jua (halah). Di pantailah mereka mengakhiri perjalanan panjang terombang ambing di lautan dan akhirnya memenuhi pantai dan menyangkutkan diri di kaki-kaki mangrove. Padahal sampah-sampah itu ga cuma bawa diri mereka, tapi bawa zat racun juga yang membawa efek ke pertumbuhan mangrove dan ikan2.

Jadi, mangrove trekking ini adalah upaya kita2 (kita siape?) untuk mengenal dan liat secara langsung keadaan hutan mangrove di Indonesia dan juga rasa solidaritas kita pada hutan mangrove dengan upaya kecil ngumpulin sampah yang berserakan. Moga2 sedikit banyak ada manfaatnya. Haha. Di akhir jalan2 kami masing2 peserta diminta membuat ‘petisi’ untuk kdiri sendiri tentang apa yang mau kita lakukan setelah ini mengenai kepedulian terhadap hutan mangrove. Yaudah deh gue membuat janji pada diri gue sendiri untuk menulis tentang acara ini di dalam blog gue dan media jejaring sosial, suapay orang2 pada tau tentang hutan mangrove, setidaknya kalau mereka baca blog/media jejaring sosial gue yang lain. Yang gue lakukan adalah meng-upload foto di fb (haha! itu udah termasuk mempublikasikan kan?), dan yang sekarang gue lunasi: menulis di blog. Hohoho.

Akhir kata, tunai sudah janji bakti saya. Semoga tulisan ini bisa jadi media berbagi pengetahuan (tumben amat gue update beginian hehhehe).

Abis ini boleh komentar kan? Hehe.

Tapi yang namanya manusia tetep aja yah manusia, kadang suka ga menganggap ada ‘makhluk lain di sekitarnya. Contohnya nih: Ada beberapa pengunjung lain di Tanjung Lesung yang ingin menikmati keindahan Tanjung Lesung. Tapi lo harus liat apa yang mereka perbuat pada resortnya sendiri. Di sore hari bagian depan kamar bilas penuh dengan BUSA bekas bilasan. Entah karena fasilitas pembuangannya yang kurang apa emang orangnya yang pada isrof buangin air yang ternoda busa seenaknya. Bau busa ini bercampur bau pesing, agaknya ada yang sekalian pipis -.- Jangan liat tempat bilasnya. Penuh sampah shampoo dan sabun hiiih. Padahal buang ke tong sampah apa susahnya sih? Deket juga. Kayak gue dong, lupa bawa shampoo dan sabun dan akhirnya bilas pake air aja huehehehe.. *sok suci abisssss*

Sekian dulu ah. Lagi labil nih esmosi gue gegara BARU selesai NGESAVE ajaaaa gitu yaaa sampe gue mengakhiri nulis ini postingan.. Rrrrr!!


About this entry