Truk Sampah
Di postingan ini gue cuma mau share suatu surat elektronik yang disampaikan temen gue melalui milis. Hmmm awalnya ketika suatu hari gue mendapati seorang temen gue menulis di suatu media jejaring sosial yang sekarang tidak ada jejaknya lagi karena pasti sudah dihapus. Dia tulis, “Males ke atas, lagi sakit perut (krauss.. krauss.. sambil makan). BANGSAT! GUE LEBIH SAKIT PERUT NGELIAT TINGKAH LO!!!” -as I ever told, gue emang pelupa, tapi gue ga bisa lupa perlakuan buruk orang ke gue, dan jangan tanya kenapa, gue juga ga tau.
Jleb!
Gue masih nggak ngerti kenapa ada orang yang sebegitu enggannya menegur kesalahan seseorang sampai seperlu itu dia ungkapkan kepada seluruh dunia melalui situs jejaring sosial. Pertama, it it was an intollerated bad thing, then yelling INDIRECTLY to the person will never make any positive impacts, see? Jadi? yelling such way cuma sekedar peluapan kekesalan? Buat apa? Kedua, it will make further bad things, e.g. lo bilang kejelekan si A, nah temen2 lo si B, C, D, E, dan seterusnya yang tau si A kan jadi ter’doktrin’ bahwa si A benar seperti yang lo anggap.
Saat ngeliat itu gue langsung hmmm oke, pura-pura nggak ngeliat. Tapi ga bisa. Kata-kata “bangsat” dengan huruf besar itu terlalu kasar gue rasa. Leher gue tercekat dan makin lama kayak ga bisa nafas. Kerjaan ga bisa konsen. Gue putar balik kejadiannya.
Itu kemarinnya. Gue menanyakan nomor ekstensi temen gue yang bekerja di lantai atas, sebab dia ga online dan ada pekerjaan yang perlu gue tanya. Dan pada saat itu emang gue lagi sakit maag sesakit-sakitnya umat. Pernah ga ngerasain maag, yang sampe lo jalan aja kayak kalo lo baru makan disuruh lari? Trus lo ga bisa tarik nafas dalam-dalam karena udara yang mengisi diafragma lo tuh rasanya terlalu berlebihan sampai menusuk-nusuk lambung lo. Padahal nafas pendek sama sekali ga cukup buat lo. Dan yang paling menyebalkan, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi pas lo ketawa, yang harusnya merupakan suatu kesenangan buat lo, lo harus juga merasakan sakit. Ironisnya, makin ketawa, makin sakit.
That was the feeling. And that’s why I kept on eating anything just hoping it would be better by the time I finished.
Dia menjawab, “Ga tau. Ke atas aja, tinggal ke atas doang.” Gue masih berusaha mencari tahu nomor ekstensi di atas. Dan dia pun tetap berusaha menyarankan gue ke atas. Lalu terlontarlah kata-kata itu dari gue. “Males, lagi sakit perut.” Dan memang gue lagi ngemil. (bahkan gue lupa cemilan apa, bodo amat, yang penting bisa membuat enzim-enzim di usus gue beralih cerna daripada pada kanibal makan temennya sendiri).
Ok, let’s say he just didn’t know it. Bla bla bla, gue lupa lanjutannya gimana. Dan jreeng! Besoknya kalimat kasar itu terbaca juga oleh gue.
Eh gue ulangin lagi ya narasinya (biar enak nyambunginnya). Saat ngeliat itu gue langsung hmmm oke, pura-pura nggak ngeliat. Tapi ga bisa. Kata-kata “bangsat” dengan huruf besar itu terlalu kasar gue rasa. Leher gue tercekat dan makin lama kayak ga bisa nafas. Kerjaan ga bisa konsen. Setelah gue mengingat kejadian kemarinnnya itu, dan mengamati jam dia melontarkan itu, semua cocok, dan memang guelah objek kalimat itu. Agaknya, kalo sakit, gue jadi sensitif kali yaaa.. Jadi rasa-rasanya meskipun gue berusaha biasa aja, mata gue ga bisa biasa. Oke. ini udah ga bisa ditahan lagi. Gue mencari-cari dalam otak, kepada siapa nih gue harus mengadu? *woelah* Dan pilihan jatuh kepada Bayu.
Bayu ga lagi online, dia menyarankan lewat sms aja. Gue pikir ga bisa, udah pasti lama dan keburu air mata gue jatuh. Malu-maluin yang ada. Akhirnya, segera ke belakang, via telpon gue mengadu pada abang gue, sambil sesenggukan yang ga bisa gue tahan.
There’s nothing more hurt than being stabbed in the back.
Bayu menenangkan gue. Bla bla bla.. Gue tenang, dan kembali bekerja seperti biasa. Gue harap orang-orang ga tau apa yang gue lakukan. Paling cuma Pak Harto yang ga sengaja memergoki gue but that’s all right.
Kalo tenang jadi bisa berpikir lebih jernih. Dan saat itulah gue ingat cerita tentang Truk Sampah.
Judul aslinya adalah “Hukum Truk Sampah”, forward-an dari milis KMBUI (K-nya lupa, M-Mahasiswa, B-nya Buddha/Buddhist, UInya Universitas Indonesia), yang diforward di milis angkatan. How I will thank him for delivering me this mail. Simak ya gan..
=============================================
Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pd jalur yg benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dr tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut. Pengemudi mobil hitam tsb mengeluarkan kepalanya & memaki ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang tersebut.
Saya sangat heran dgn sikapnya yg bersahabat. Saya bertanya, “Mengapa Anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil Anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!”Saat itulah saya belajar dr supir taxi tsb mengenai
apa yg saya kemudian sebut “Hukum Truk Sampah”.
Ia menjelaskan bahwa byk orang seperti truk sampah. Mrk berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dgn semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat utk membuangnya, & seringkali mereka membuangnya kpd Anda. Jgn ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup. Jgn ambil sampah mereka utk kembali membuangnya kpd orang lain yang anda temui, di tempat kerja, di rumah atau dlm perjalanan. Intinya, orang yg sukses adalah orang yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari-hari mereka dgn merusak suasana hati.
Hidup ini terlalu singkat utk bangun di pagi hari dgn penyesalan, maka kasihilah orang yg memperlakukan anda dgn benar, berdoalah bagi yg tidak. Hidup itu 10% mengenai apa yg kau buat dengannya dan 90% ttg bagaimana kamu menghadapinya. Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi ttg bagaimana belajar menari dlm hujan.
Selamat menikmati hidup…
=============================================
Wah gue baca ini lagi kemarin (karena ini sudah berganti hari ya ternyata). daaan mulai berpikir lagi..
Barangkali memang dia sedang banyak masalah, banyak pikiran, banyak pekerjaan.. Atau kekesalannya pada gue sudah semakin menumpuk, mungkin dari perlakuan-perlakuan gue yang kemarin2 ada salahnya ke dia (?), dan puncaknya waktu itu. Barangkali juga dia sangat anti dengan cewek yang terdengar manja. (Huh. Padahal gue ga maksud, tanya aja sama seseorang-gue, pasti dia bilang gue mandiri.) Atau lenje barangkali? Mungkin memang waktu itu gue terdengar demikian. Dan mungkin dia juga belum cukup waktu untuk berempati dan menyadari bahwa gue emang beneran sakit perut (yang mana ga mungkin banget perutnya lebih sakit dari gue karena kelakuan gue, meski apapun – kecuali secara fisik misalnya kalo ditonjok mungkin).
Well sempet kepikiran, gue pengen banget dia ngerasain sakit maag kayak yang gue rasain, dan someday ada yang memperlakukan dia sekasar yang dia lakukan ke gue – ga mesti gue pelakunya. Barangkali di saat itu dia flashback ke kejadian ini, sadar bahwa segala hal ga seperti yang dia pikirkan secara selintas.
Huh kasar! (lho kok jadi marah lagi gue?)
Hmmm gue ga bener2 berharap itu kok. Kalo kata temen gue yang Buddha, karma itu, either baik, or buruk. Baik dibalas baik, buruk dibalas buruk, dan ada aja jalannya.
Jadiiiiii… Gue pilih yang baik aja deh, biar dapet karma baik. Kejelekan dia pada gue nanti juga ada jalannya. ;p
____
Eh.. bisa dibilang juga begini: kalo gue bikin dia kesel waktu itu, trus balasanannya dia bikin gue kesel dengan kalimat jejaring sosialnya itu. Impas dong? Hahahaha yasudahlah anggap saja impas.
About this entry
You’re currently reading “Truk Sampah,” an entry on another life journal
- Published:
- April 9, 2011 / 2:37 am
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]