Cemburu
Hai! Long time not updating my blog..
Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimkan pesan singkat (gue lupa lewat sms atau chat ya hehe).
“Gue cemburu sama kantor lu.”
I wasn’t really get the words, It swept away just like a dust.
Dua hari yang lalu, gue pulang laruuut sekali (bagi standar bokap gue). Bagi gue sendiri, sebenarnya pulang jam 11 masih terlalu sore. Kehidupan para arsitek baru dimulai malah jam segitu. Di kosan (dulu, waktu gue masih ngampus), kami bisa BARU memulai kerja di kampus jam 11 malam. Itu bertujuan untuk mendapatkan fasilitas internet via wi-fi. Biasanya kalo ngerjain yang lain2 yang ga membutuhkan comot sana-sini dari internet, kami (mahasiswa arsitektur) hanya bekerja di kamar kosan. Itupun tetap bekerja lho.
But it was soooo yesterday. Ga kerasa, gue udah kerja aja (hahaha padahal kerja juga baru 1,5 bulan weyy).
Dua hari yang lalu, gue pulang dari kantor jam 11 malem. Jangan tanya rekan-rekan sekantor gue. Gue adalah orang ter’tenggo’ di antara mereka.
Sampai di rumah, tidak ada suatu kecemasan. Gue buka pagar, masukin motor, dan.. jeng~~!!! Pintu rumah dikunci!
Roman-romannya ga enak nih. Biasanya gue langsung membuka pintu rumah, ambil kunci (karena kunci utama rumah terangkai bersama kunci gembok pagar), lalu menggembok pagar, dan mengembalikan kunci itu ke pintu utama rumah, lalu menguncinya kembali. Selesai. Setelah masuk ke dalam rumah, barulah gue melepas helm dan segala perlengkapan naik-motor gue, kemudian bawa tas, ke atas, lalu menaruh perlengkapan pribadi gue di meja gue.
Gue mendengar di dalam kamar bonyok sedang berbincang.
Gue duduk di luar. Melepas helm, masker, sarung tangan, dan sepatu. Lalu mengetuk pintu. “Maaaah, kok dikunci sih?”
Di dalam terdengar lagi orang bercakap. Berdebat sih sebenernya.
Lamaaa gue tunggu.
“Maaaah, aku dapet nih, pengen ganti. Buka dong..” Well, I was on my period, and it was the early days.
Gue tunggu di luar. Terdengar Mama keluar dari kamar. Mama menyingkap tirai ruang tamu. “Bapak ga mau bukain kuncinya, karena kamu pulang malem terus.”
“Haaaah??” langsung gue mengernyitkan dahi. “Yang bener aja sih? Emangnya aku ngapain coba? Ini hari kerja, ya aku pulang kerja lah! Dipikir aku ngapain coba?” Kayak pengen nangis gue. Kekesalan menjadi-jadi. “Aneh banget sih!!!”
Huh.. Tingkah laku bokap gue emang aneh.
“Tau tuh bapak kamu.” kata nyokap.
Tapi akhirnya nyokap punya ide. sejurus kemudian gue mendengar pintu belakang dibuka. Rupanya bokap ga menyimpan kunci pintu belakang. Akhirnya gue segera masuk ke garasi dan masuk dari pintu belakang. Sambil bersungut-sungut gue bilang, “Aneh banget sih? Namanya juuga lembur. Emangnya siapa juga sih yang mau lembur? Semua orang juga maunya pulang!!” Sengaja gue mengeraskan suara, biar bokap gue yang di dalam kamar denger.
“Udah diem aja.” kata Mama. Mama paling tau kalo watak gue sama bokap gue sama persis: sama-sama keras. Ga bisa deh kalo diketemuin dalam keadaan sama-sama emosi. Yasudah, gue langsung menaruh tas di atas dan ganti baju. Lalu gue turun ke bawah lagi untuk makan.
Selesai makan, gue cuci muka dan sikat gigi, dan ga pake mandi. Males. Ini juga cukup segar kok untuk tidur. Barulah ketika gue merebahkan diri ke kasur gue bisa berpikir dengan lebih calm.
Gue teringat dengan kata-kata itu. “Gue cemburu sama kantor lu.”
Hah. Jadi ini…
Iya. Agaknya karena akhir-akhir ini gue sibuk kerja, belum lagi di weekend gue selalu sibuk ngurusin ini-itu, rapat di sana-sini, dan pulang malem juga.. Gue tampak sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk “seseorang” gue dan keluarga gue bahkan. Di banyak chat dan sms, gue tidak membalas.
Sms: Pertama, karena ga sempet buka. Kedua, ketika ngebuka pun, juga lagi sibuk. Seringkali gue cuma ngebuka sms tanpa membacanya, sekedar untuk menghilangkan notification sms di layar yang bakal menggeser tempat penunjuk waktu dan merepotkan gue kalo mau ngeliat jam – harus unlock dulu supaya notif si kunci hilang dan memberi ruang untuk jam. Ketiga, kalo mau bales kan pake mikir tuh. Sering sih gue mengetik balasan, cuman ga sampai selesai dan itu terlupakan begitu saja karena gue tersibukkan dengan yang lain. Beberapa hari kemudian, atau mungkin beberapa minggu kemudian, gue baru menyadari ketikan-gue-yang-tidak-selesai itu pas mau men-delete draft. “Oh! Ya ampun!” akhirnya tetap gue hapus juga tanpa tindak lanjut membalas. Keempat, di saat longgar, gue buka sms, dan benar-benar membacanya dengan seksama. Tapi itu udah berhari-hari setelahnya. Saat itu pasti selalu timbul keinginan untuk membalas, tapi segera setelahnya pasti timbul perasaan, “Ah, basi banget kalo gue bales sekarang. Ga usah aja deh sekalian.” Hahhahaha..
Chat: Biasanya chat timbul di jam kerja. Itu dia. Percuma ngeBUZZ!! gue juga. I’m straight on my job. Kadang gue ga sengaja available karena gue membuka email, jadi gue OL via chatbox email, bukan via ym. Akibatnya, begitu membuka web browser, gue biasanya akan berpindah ke tab lain (biasanya plurk atau google), lalu kembali mengerjakan pekerjaan gue. Dan itu membuat chat (siapapun) ga akan terlihat notificationnya. Tanda oranye-oranye memberi tahu ada chat di chatbox baru bisa muncul kalo kebetulan si webbrowser terminimize dalam keadaan gue lagi buka tab email. Kalo nggak.. inilah yang biasa terjadi: si orang yang ngechat ngirainnya gue sombong lah, atau dia bosan menunggu sampai akhirnya off lah, atau malah ngomel-ngomel karena chat ga dibales smspun tidak huahahaha.
Malah ada yang pernah nulis status di fbnya, ngatain gue merasa lebih mulia dari Nabi, sampe-sampe orang diajak ngomong aja ga mau, dan minta maaf ga diladenin. Waktu itu emang ada masalah sedikit. Dia ada di posisi harus meminta maaf pada gue. Bagi gue sih bukan masalah tapinya. Sama sekali biasa aja kok. Cuman emang beberapa kali gue dapati dia men-chat gue tapi udah off ketika gue menyadarinya. Yah. Yasudah, gue pikir akan ada kesempatan lain, namun kesempatan-kesempatan itu terus lewat begitu saja sampai akhirnya gue mendapati status itu tertera di home fb gue. “Hah, ini maksudnya gue nih? Udah berapa lama sih lo kenal sama gue? Masa lo nggak tau kalo itu cuma gara-gara gue lagi asik sama dunia gue sendiri?” Yaudahlah kalo gitu. Sekalian aja ga usah gue bales chat lo terus. Dan sampai sekarang chat si orang ini ga gue bales-bales. Beberapa karena seperti yang gue jabarkan di atas. Beberapa lagi karena emang sengaja.
Oke, itu OOT.
Tipikal arsitek, gue rasa.
Hmmm kenapa gue bilang “asik” sama dunia gue sendiri? Karena ini emang asik. Benci, tapi suka. Bosan, tapi ga mau ninggalin. Dapet kerjaan (proyek baru), bilang “yah” tapi ada senengnya juga, karena mengerjakan sesuatu yang baru itu rasanya seperti punya gebetan atau pacar baru hihihi. Punya proyek sampingan (kalo kata temen kantor gue “asongan” atau “ngasong” hahaha) itu kayak punya selingkuhan (woelah kayak gue pernah ngerasain aja punya selingkuhan). Itu arsitek. Mau sekesal apapun dengan kerjaannya, ini adalah dunia yang dia cintai. Kenapa kebanyakan arsitek lembur? Karena dia sendiri tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Mau diterusin, sebel. Mau ninggalin, berat. Akhirnya pilihan jatuh pada “nerusin aja deh”.
Ya, kami arsitek suka asik pada dunia kami.
Saking asiknya, kami bisa meninggalkan apapun. Beberapa minggu yang lalu, gue menyatakan gue belum siap menikah sampai waktu yang belum ditentukan. Seseorang ini terperanjat. Bahkan gue bilang kalo diterjemahkan dengan bahasa to-the-point “Lo sama orang lain aja deh, gue bener-bener ga ada pikiran menikah sekarang, dan mungkin sampai 1-2 tahun ke depan. Atau mungkin lebih sedikit.” Nah lhoo..
Ya. Bahkan gue rela melepas seseorang yang sudah ingin menikahi gue untuk pekerjaan ini. Agak gila sih setelah gue pikir-pikir.
Working in a job you love. That is what I’m feeling (paling tidak, akhir-akhir ini).
Bagi gue, ini seperti… Hmmmm gue baru punya bayi kecil, yang gue cintai. Tapi dia masih lemah. Kalau seorang ibu, pasti akan merawat bayinya penuh cinta, memberi asi, merawat, tidak peduli waktu. Rela bangun tengah malah kalau dia haus. Tidak bisa meninggalkan begitu saja karena cintaaaa sekali. Tidak bisa tidak memedulikan. Tidak bisa tidak perhatian.
Let’s say it is a “career”. Bagi gue ini sesuatu yang baru. Hmmm bisa dibilang ini cita-cita. Ya, saya ingin menjadi arsitek, dan dari SMP sampai sekarang alhamdulillah belum berubah. Karir gue. Baru mulai. Baru lahir. Oh my baby career. Masih kecil dan lemah. Gue belum ada apa-apanya. Baru juga sedikit melihat dunia. Masih panjang perjalanan gue untuk meraih karir yang gue dambakan sebagai arsitek. Tarohlah: untuk mendapatkan SKA Pratama aja, gue harus punya pengalaman kerja 2 tahun dan pengalaman 1 proyek dari awal hingga akhir. Kebayang kan se-”belum-apa-apa”-nya gue?
Huh.
Jadi, seseorang itu dan bokap gue merasa cemburu dengan kantor gue.
Tapi tetap, tulisan ini akan berakhir seperti ini:
Someone there, My father, my family..
I’m sorry for I’m giving too much attention to my baby career. Well I really want you all to understand. You may say I, myself dont want to understand because yes I can’t deny I don’t want to understand. I just want to be understood, that I’m loving it. I think I’d promise it’s just for a while. Well it’s not that promiseable promise though. But please hold me on, I’ll be back with all my soul to all of you, my dearest people. It’s just a matter of time.
About this entry
You’re currently reading “Cemburu,” an entry on another life journal
- Published:
- April 2, 2011 / 2:37 pm
- Category:
- mari sok berpikir dan berkomentar
- Tags:
1 Comment
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]